Hall of inspiration - Page 21
Welcome guest, is this your first visit? Create Account now to join.
  • Login:

Welcome to the CHIP Forum.

If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed.

+ Reply to Thread
Page 21 of 23 FirstFirst ... 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 LastLast
Results 201 to 210 of 225

Thread: Hall of inspiration
  
Bookmark and Share

  1. #201
    Join Date
    Nov 2007
    Posts
    1,249
    Thanks
    4
    Thanked 31 Times in 23 Posts
    Rep Power
    13

    Re: Hall of inspiration



    bergunakah dan berhargakah saya bagi Allah????

  2. #202
    Join Date
    Nov 2007
    Posts
    1,249
    Thanks
    4
    Thanked 31 Times in 23 Posts
    Rep Power
    13

    Re: Hall of inspiration



    please kill me....
    i don't know if i can hold this pain.....
    it's too pain.....
    for me.....
    i wish i'm die....

  3. #203
    Join Date
    Nov 2007
    Posts
    1,249
    Thanks
    4
    Thanked 31 Times in 23 Posts
    Rep Power
    13

    Re: Hall of inspiration



    i help people....
    i care whit people.....
    but who's will care whit me?
    who's will help me?
    no body..........

  4. #204
    Join Date
    Nov 2007
    Posts
    1,249
    Thanks
    4
    Thanked 31 Times in 23 Posts
    Rep Power
    13

    Re: Hall of inspiration



    NO!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    What have You done to me?!!!
    WHY!!!???

  5. #205
    Join Date
    Mar 2006
    Location
    menunggu Mu.....
    Posts
    4,374
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Rep Power
    33

    Re: Hall of inspiration



    Serambi

    Jika Hidup Kenyang Hinaan



    Setidaknya dalam lima tahun terakhir terjadi dua penembakan brutal di Amerika dengan pelaku yang nyaris sama; sama-sama pemuda imigran yang hidupnya kenyang dihina.

    Mari kita bayangkan keadaan terhina itu. Ya begitulah rasanya. Meriangnya sampai ke jiwa. Jika melihat sang penghina rasanya ia hendak kita lumat hingga selumat-lumatnya.

    Cara paling sehat untuk membuang perasaan terhina ini adalah dengan cara menyalurkan dengan segera. Sayang cara ini tidak mudah karena berbagai keterbatasan.

    Pertama adalah keterbatasan hukum. Melumat begitu saja para penghina, jatuhnya cuma akan melanggar hukum.
    Padahal tak setiap dari kita kuat dan berani melanggar hukum.

    Kedua adalah keterbatasan kita sendiri.
    Contoh kedua ini dililustrasikan dengan baik oleh maestro lawak Jawa kegemaran saya: Junaedi, di salah satu kasetnya. Saat itu ia bercerita tentang istrinya yang digoda lelaki iseng di jalanan. Sebagai suami terhormat ia marah luar biasa dan bersiap melabrak sang penggoda. Untung kemarahan itu tidak mengganggu akal sehatnya. Sebelum main labrak ia bertanya lebih dulu keadaan sang penggoda itu. "Tinggi besar," jawab sang istri. Junaedi surut setindak dan gantinya cukup memberi nasihat bijak, "Ya sudah, besok jangan lewat jalan itu lagi".

    Psikologi seperti Junaedi itulah yang kadang-kadang kita derita. Tak mudah menyalurkan perasaan terhina karena banyak sekali batasannya. Jika cuma batasan hukum, kita mudah menerimanya karena ia menghuni keadaan banyak orang. Tetapi jika keterbatasan itu berpusat pada diri sendiri ia akan menjelma jadi depresi.

    Dua pelaku penambakan brutral di Amerika itu adakah anak-anak muda pemberani?
    Tidak. Mereka butuh menabung keberaniannya bertahun-tahun.
    Itulah tabungan yang setorannya adalah akumulasi hinaan yang berlangsung setiap hari.
    Jika anak-anak ini bicara, cuma disambut gelak tawa sekitarnya karena bahasa Inggris mereka yang dianggap aneh.

    Ketika bicara cuma menjadi tertawaan, diam adalah sebuah pilihan.
    Diam sepanjang hayat sambil memendam kemarahan itulah yang memupuk nyali untuk membunuh.
    Dan nyali itu tak bisa begitu saja disetarakan dengan keberanian karena setelah penembakan itu, mereka mengerti kalkulasinya. Mereka memilih bunuh diri katimbang menghadapi kenyataan.

    Begitu berat hidup ini jika setiap kali harus menanggung hinaan.

    Padahal sulit sama sekali menghindari perasaan terhina itu karena jumlahnya banyak sekali, baik yang datang dari orang lain maupun yang datang dari diri sendiri.

    Hinaan dari pihak lain jelas sumbernya: para pendengki.

    Tak sulit mencari siapa pendengki karena naluri itu juga bersemayam di dalam diri kita sendiri.

    Juga tak sulit menemukan sumber hinaan dari diri sendiri. Karena semakin lemah kedudukan kita, kekuatan orang lain akan terasa sebagai derita. Semakin gagal diri sendiri, semakin terhina kita setiap melihat sukses orang lain.

    Jadi, pada dasarnya, sulit sekali menghindari dari perasaan terhina itu karena ia bisa datang kapan saja dan menyerang siapa saja, baik yang tidak maupun yang disengaja.

    Maka hidup ini boleh terhina, asal kadang-kadang belaka. Sekali terhina saja sakitnya luar biasa. Ada yang cuma sekali tapi kesumatnya terbawa mati. Apalagi jika hinaan itu datang berkali-kali. Apalagi jika bukan cuma berkali-kali tetapi terhina itulah selalu kedudukannya. Bisa dibayangkan, betapa kalau bisa, ia tidak cuma akan menembaki siapa saja tapi kalau perlu akan menumpas seluruh isi dunia.
    Benci dan kemarahan itu, jika sudah menyala, tak jelas di mana tepinya.

    Begitu berbahaya keadaan terhina itu sehingga penting sekali mengurangi jumlah penyebabnya.

    Padahal penyebab itu kadang remeh dan tidak pula kita sengaja, misalnya: jika Anda memasak dan tetangga kebagian cuma uapnya.
    (Prie GS/)
    Last edited by ucup889; 02-03-2010 at 19:24.
    "To know your faults and be able to change is the greatest virtue."

  6. #206
    Join Date
    Nov 2007
    Posts
    1,249
    Thanks
    4
    Thanked 31 Times in 23 Posts
    Rep Power
    13

    Re: Hall of inspiration



    menatap ke Atas
    Hidden
    Last edited by naoko; 12-03-2010 at 21:36.

  7. #207
    Join Date
    Nov 2007
    Posts
    1,249
    Thanks
    4
    Thanked 31 Times in 23 Posts
    Rep Power
    13

    Re: Hall of inspiration



    today my father ask me"why i'm still can't get work?"
    what i should to answer? ask to Up There?

  8. #208
    Join Date
    Nov 2007
    Posts
    1,249
    Thanks
    4
    Thanked 31 Times in 23 Posts
    Rep Power
    13

    Re: Hall of inspiration



    Let's end this once and for all

  9. #209
    Join Date
    May 2006
    Location
    Republik Indahnesia
    Posts
    179
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    15

    Talking Re: Hall of inspiration



    Berserah kepada Tuhan

    Seorang pemuda tersesat di sebuah hutan dan terpisah dari rombongannya. Hari mulai gelap. Ketika berjalan ia terperosok ke jurang yang sangat terjal. Untung ia masih dapat memegang sebuah akar pohon. Dia pun berdoa, "Tuhan, kirimkan malaikat untuk menolong saya". Tetapi yang muncul adalah Suara yang berbicara dalam hatinya "Beriman dan berserahlah, lepaskan tanganmu".
    Tetapi ia tidak mau mati konyol, ia bergantung sampai matahari terbit. Setelah terang ia melihat keatas dengan betapa bersyukurnya kepada Tuhan .. ratusan meter jauhnya. Kemudian ia melihat kebawah, ia lebih terkejut lagi karena jarak kakinya dengan tanah kurang lebih hanya 50cm.


    "Money may not buy happiness,
    But I'd rather cry in my private Jaguar than on a public bus

    - Françoise Sagan, 1955 -




    FB | Looklet

  10. #210
    Join Date
    Mar 2006
    Location
    menunggu Mu.....
    Posts
    4,374
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Rep Power
    33

    Re: Hall of inspiration



    Felstead

    -- karena manusia adalah mahluk (yang) bermain





    Pada malam natal 1915, di desa Laventie di utara Prancis, dua kubu serdadu dari Inggris dan Jerman yang saling berhadapan dalam jarak dekat mendekam di parit pertahanannya masing-masing. Tak ada pohon natal, tak ada kalkun panggang. Lantas terjadilah satu selingan pendek yang menyentuh dalam lembaran sejarah Perang Dunia I itu: salah seorang dari mereka — mulanya dengan suara lirih — menyanyikan lagu natal, lalu ada yang iseng menyapa. Lalu, ya, lalu… mereka semua bermain bola!

    Bertie Felstead, serdadu Inggris sekaligus saksi mata peristiwa yang masih sempat merasakan udara abad-21, memberi kesaksian yang menyentuh. Katanya:
    “Kami dipisahkan oleh jarak yang hanya sekitar 100 yard saat pagi hari Natal itu tiba. Seorang serdadu Jerman menyanyikan lagu All Through the Night, lalu para serdadu Inggris membalasnya dengan manyanyikan lagi Good King Wencelas. Pagi berikutnya, para serdadu saling menyapa. Hello Tommy… Hello Fritz. Serdadu Jerman yang memulai, mereka keluar dari paritnya dan berjalan menghampiri kami. Tak ada yang memerintahkan, tapi kami semua memanjat dinding pembatas dan bergabung dengan mereka. Beberapa dari mereka menghisap cerutu sekaligus menawari kami cerutu. Kami juga menawarkan sebagian dari yang kami miliki. Lalu kami mengobrol. Kami berbicara dengan bahasa campur aduk. Ada yang bicara dalam Inggris, Jerman, dan Prancis… sisanya dengan bahasa isyarat. Kami semua tidak takut ditembak karena kami semua telanjur berbaur satu sama lain.”
    Felstead tidak terlalu ingat lagi bagaimana bola yang dimainkan itu muncul. Tiba-tiba saja semua sudah berebutan bola. Ini bukan jenis pertandingan normal dengan seperangkat peraturan resmi yang ditaati satu sama lain. Mereka bermain begitu saja. “Saya masih ingat bagaimana salju teracak-acak. Tidak ada yang menjaga gawang,” kenang Felstead yang wafat pada 22 Juli 2001.

    Kata Felstead lagi, permainan sepakbola di antara dua kubu yang berseteru itu berlangsung hanya sekitar 30 menit.Lalu muncul suatu hiruk pikuk di antara mereka, disusul teriakan keras dari seorang perwira Inggris — ya, teriakan yang sangat keras dalam pengertian denotasi maupun konotasi: “You came out to fight the Huns, not to make friends with them.”

    Tentu saja ini bukan satu-satunya “gencatan senjata spontan” antara Jerman dan Inggris pada Perang Dunia I.
    Pada 24 Desember 1914, terjadi “gencatan senjata spontan” di sekitar Ypres, Belgia.
    Lagi-lagi tentara Jerman yang memulai dengan mendekorasi façade parit perlindungan mereka dengan memasang lilin-lilin sembari menyanyikan lagu-lagu natal (adakah yang lebih puitis dari ini dalam adegan perang yang sesungguhnya, kawan?).

    Pihak Inggris menanggapinya dengan menyanyikan lagu-lagu mereka sendiri. Lalu satu sama lain saling mengucapkan salam natal. Tak hanya itu, satu sama lain lantas bertukar hadiah natal: ada yang berupa makanan kecil, cerutu, alkohol dan beberapa souvenir kecil seperti topi.

    Gencatan serupa juga terjadi di beberapa tempat, beberapa bahkan berlanjut hingga momen perayaan tahun baru. Akhirnya kabar itu pun sampai ke telinga Jenderal Sir Horace Smith-Dorrien, komandan pasukan British Corps II. Dia bukan hanya marah, tapi juga mengeluarkan perintah yang melarang segala jenis komunikasi yang berlangsung secara ilegal dengan pihak Jerman.

    Tapi setiap Jenderal memang tak mungkin bisa menjangkau dan mendengar suara hati para serdadu yang mesti mendekam di parit pertahanannya sepanjang malam di hari natal, saat orang-orang sedang berkumpul di depan perapian bersama keluarga terdekat dengan kalkun panggang yang besar nan lezat, saat musim dingin sedang hebat-hebatnya. Dengarlah bagaimana suasana dan suara hati Felstead saat ia mendengar lagu-lagu natal itu terbantun perlahan: “Mustahil perasaan Anda tidak tersentuh saat mendengarkan satu sama lain saling bernyanyi dalam situasi seperti itu.”

    Lalu mereka pun berbagi kegembiraan dengan bermain bola, sebelum seorang perwira Inggris berteriak keras: “You came out to fight the Huns, not to make friends with them.”

    Teriakan itu bukan hanya menghentikan permainan sepakbola, tapi menghempaskan para serdadu ke bumi yang keras dan menuntut terlalu banyak itu, mengkandaskan kegembiraan sederhana yang baru mereka nikmati hanya selama 30 menit itu. Pada akhirnya, mereka kembali ke parit pertahanannya masing-masing, kembali tiarap dan mengokang senjata dan menanti aba-aba untuk segera menghamburkan kembali peluru ke arah orang-orang yang beberapa waktu sebelumnya berbagi cerutu dan bermain bola sama-sama dengan mereka.

    Teriakan keras tanpa kompromi perwira Inggris itu, juga sikap keras dan tanpa kompromi Jenderal Sir Horace Smith-Dorrien, adalah bukti tak terbantah bahwa perang tetap saja perang: barangkali dalam perang akan ada - pasti selalu ada — selingan-selingan pendek yang menyentuh sudut-sudut terdalam kemanusiaan, tapi darah dan kematian toh tetap saja menjadi struktur dan plot utama sebuah peperangan.

    Saya teringat kesaksian seorang serdadu Amerika yang terlibat dalam front pertempuran di Eropa pada Perang Dunia ke-2. Seperti yang saya saksikan di serial Band of Brothers, salah seorang dari mereka - kalau tak salah ingat– kira-kira berkata: “Mereka (para tentara Jerman itu) dalam banyak hal sama seperti kami. Mereka mungkin senang memancing atau berburu. Tapi mereka melakukan apa yang diperintahkan, seperti halnya saya melakukan apa yang diperintahkan. Dalam situasi bukan peperangan, kami mungkin bisa saling bersahabat.”

    Tidak, tidak… tidak perlu situasi yang berbeda dari peperangan mereka bisa bersahabat. Dalam peperangan pun, sebenarnya, mereka bisa berteman, setidaknya bisa bermain bola, walau cuma 30 menit. Apa yang terjadi dengan Felstead, dkk., di pelosok desa Laventie menunjukkan bahwa itu bukan hal yang mustahil, setidaknya sejarah pernah mencatatnya, kendati barangkali hanya sekali. Karena orang memang tak perlu apa-apa untuk bermain bola, tak perlu senjata, senapan, uang atau apa pun.

    Felstead sendiri - yang pada November 1998 mendapat lencana dari pemerintah Prancis– mengaku tidak banyak berpikir ketika ikut menendang-nendang bola pada natal yang tak biasa itu. Ia hanya bilang, “Saya ikut bermain karena saya memang sangat menyukai sepakbola.”

    Ya, menyukai sepakbola, sebab tak perlu banyak alasan bagi seorang pecinta sepakbola jika ada bola di depannya selain menendangnya. Seperti kata Socrates, ini bukan Socrates yang filsuf itu tapi kapten timnas Brazil di Piala Dunia 1986, “Kau hanya perlu bola, hanya perlu sebuah saja…”

    Maka bermainlah Felstead, karena toh setiap manusia sebenarnya - seperti dengan meyakinkan dipaparkan oleh Johan Huizinga dalam bukunya yang terkenal, Homo Ludens: A Study of the Play Element in Culture– adalah mahluk yang bermain, homo ludens; dan peperangan adalah adalah versi lain dari permainan.

    Sedihnya, kata Huizinga di halaman 201 bukunya itu, peperangan modern yang mengambil bentuk total-war telah terjerumus ke dalam “…old agonistic attitude of playing at war for the sake of prestige and glory.” Inilah yang menyebabkan Huizinga, pada halaman 90 buku yang sama, menyebut bahwa peperangan modern “telah memadamkan sisa-sisa terakhir elemen permainan” (”extinguish the last vestige of the play-element“).

    Felstead, dkk., mencoba menyalakan kembali sisa-sisa elemen permainan dalam peperangan itu, tapi upaya itu terlalu rapuh, dan langsung rontok hanya karena satu teriakan: “You came out to fight the Huns, not to make friends with them!”
    Last edited by ucup889; 05-06-2010 at 14:14.


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts