To all yg sdh kontribute posting yg bagus bagus
GRP sent....
enjoy ajaaa.........![]()
To all yg sdh kontribute posting yg bagus bagus
GRP sent....
enjoy ajaaa.........![]()
"To know your faults and be able to change is the greatest virtue."
Setiap Langkah adalah Anugrah
Seorang profesor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer pada tanggal 1 Desember. Di sana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, bernama Ralph.
Ralph yang dikirim untuk menjemput sang profesor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor. Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka. Kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi professor itu dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Dari mana Anda belajar melakukan hal-hal seperti itu ?" tanya sang profesor.
"Melakukan apa ?" kata Ralph.
"Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu?"
"Oh," kata Ralph, "selama perang, saya kira."
Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.
"Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah,"katanya.
"Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan yang terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini."
Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas..
itu kayanya salah nulis yah..![]()
sumber: http://www.expat.or.id/info/thedrainpeople.htmlThe Drain People
Living in Jakarta one all the time sees examples of the worst sides of human behavior and existence. We see the, the lung-destroying pollution, the filth, the poverty, the theft and the constant corruption. We also see chaotic traffic and the inability, or is it the unwillingness of the police, to do anything about it because there’re no direct cash benefits in it for them? Lots and lots of not very nice stuff. We can easily forget there are nice things to be found in our environment.
Just near where I live lives a family that by their example, helps give one the tolerance to continue on here and to take a less jaded view of life. They are church-mouse poor. Their house is an old kaki lima that they’ve propped up on scrounged old boards spanning a filthy open drain, that a few meters away drains into an even filthier (if this is possible) canal. They sleep inside in shifts. The house is also a tiny warung from which minute quantities of everyday consumer goods are sold for a miniscule profit. Next to this tiny “shophouse”, the senior man in the extended family has set up a small open air bengkel to repair punctures in motorcycle tyres. He and his helpers work hard and are available 24/7 to sell their services.
Someone has to be awake and on the alert at all times or their equipment and tools would disappear – at least those that remain after plundering by “public order” officials.
The surroundings are filthy, the work is dirty work and hard in all seasons – even more so in the rainy season. The road they front is noisy, busy and dangerous. Dilapidated diesel buses spew their filth over them all day and half the night. Their toilet is the drain - where they wash I can’t bring myself to think about. They are surrounded and preyed upon by sundry relatives, who seem to visit from the home kampung on rotation to take without contributing.
Premen extort them for a slice of their miniscule earnings and take goods from the store without paying. Public order officials likewise extort them and abuse them. These relatives, premen and officials don’t care about their poverty, the babies and the young kids’ deprivation, or their parents’ massive efforts to drag themselves out of the mire. They just want cash for no effort at all.
When I first encountered these people, their appearance had me clutching my bag tightly and hurrying past, eyes averted, but as time moved along I came to know the family a little, and along with this came to deplore their position and to respect their efforts. They were always polite and friendly towards me when I passed.
Their just-started-school-age daughter, a bright and pretty little kid who, in the mornings at least is always presented as clean and shining as a new pin, once – only once – asked me for money. She was immediately scolded for being rude to me, and in front of me was told that if she wants money she must earn it, just as hear parents do. Chastened, she immediately apologized to me with a sincere charm that melted me.
I’ve taken to occasionally carrying shiny red apples to give this little girl. She accepts them with one of the world’s nicest smiles and a very big “Thanks you Misterrr!” - but only if I’ll accept a glass of teh (tea) from her Ibu’s warung.
She and her family are about the nicest people I know.
MR
KEKUATAN BERPIKIR POSITIF
: Norman Vincent Peale adalah Penulis buku "The Power of Positive Thinking
Suatu ketika seorang pria menelepon Norman Vincent Peale.
Ia tampak sedih.
Tidak ada lagi yang dimilikinya dalam hidup ini.
Norman mengundang pria itu untuk datang ke kantornya.
"Semuanya telah hilang. Tak ada harapan lagi," kata pria itu. "Aku sekarang
hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini.
Norman Vincent Peale, penulis buku "The Power of Positive Thinking",
tersenyum penuh simpati. "Mari kita pelajari keadaan anda," katanya Norman
dengan lembut.
Pada selembar kertas ia menggambar sebuah garis lurus dari
atas ke bawah tepat di tengah-tengah halaman. Ia menyarankan agar pada kolom kiri pria itu menuliskan apa-apa yang telah hilang dari hidupnya.
Sedangkan pada kolom kanan, ia menulis apa-apa yang masih tersisa.
"Kita tak perlu mengisi kolom sebelah kanan," kata pria itu tetap dalam
kesedihan. "Aku sudah tak punya apa-apa lagi."
"Lalu kapan kau bercerai dari istrimu?" tanya Norman.
"Hei, apa maksudmu? Aku tidak bercerai dari istriku. Ia amat mencintaiku!"
"Kalau begitu bagus sekali," sahut Norman penuh antusias. "Mari kita catat
itu sebagai nomor satu di kolom sebelah kanan "Istri yang amat mencintai".
Nah, sekarang kapan anakmu itu masuk penjara?"
"Anda ini konyol sekali. Tak ada anakku yang masuk penjara!"
"Bagus! Itu nomor dua untuk kolom sebelah kanan "Anak-anak tidak berada
dalam penjara." kata Norman sambil menuliskannya di atas kertas tadi.
Setelah beberapa pertanyaan dengan nada yang serupa, akhirnya pria itu
menangkap apa maksud Norman dan tertawa pada diri sendiri.
"Menggelikan sekali. Betapa segala sesuatunya berubah ketika kita berpikir dengan cara seperti itu," katanya.
Kata orang bijak, bagi hati yang sedih lagu yang riang pun terdengar memilukan.
Sedangkan orang bijak lain berkata, sekali pikiran negatif terlintas di pikiran, duniapun akan terjungkir balik.......
Maka mulailah hari dengan selalu berfikir positif.....
Norman Vincent Peale adalah Penulis buku "The Power of Positive Thinking
Last edited by ucup889; 14-04-2008 at 23:42.
Serambi09-08-2007
Sherina dan Indonesia
SEANDAINYA anak-anak Indonesia berkesempatan tumbuh seperti Sherina..., begitu pikirku suatu kali.
Sejak lama anak itu membuatku termangu.
Sejak usia SD kelas dua ia telah menggemparkan Indonesia dengan lagu anak-anak yang tak biasa.
Lagu yang bahkan orang tua pun berat menyanyikannya. Lagu yang amat
dewasa, amat berselera tetapi tanpa menganggu masa kanak-kanaknya. Anak itu tetaplah anak-anak, tetapi dari jenisnya yang berbeda. Keberanian meneguhkan perbedaan ini, sungguh menggugah rasa hormatku, terutama pada keluarganya.
Di usai sedini itu, bahasa Inggrisnya telah baik sekali. Ia tampak mungil nyelip di antara sosok-sosok Westlife yang raksasa ketika boysband itu datang ke Indonesia.
Tetapi anak ini berdialog dengan mereka seperti kepada teman sepermainannya. Ini sebuah syiar yang menggugah kepada anak-anak di negaraku yang terancam inferior oleh kekuatan asing.
Lalu terbayanglah di benakku tokoh Haji Agus Salim yang kecil dan kurus tetapi begitu sampai di podium langsung berubah menjadi singa. Terbayang Sutan Syahrir dengan fisik yang seadanya, tetapi dengan isi pikiran seluas Indonesia Raya.
Ketika Sherina main film, aku diseret putriku untuk ikut antre berdesakan cuma untuk bisa menontonnya. Aku terharu melihat film ini. Bukan karena terhasut pada ceritanya, melainkan karena terhasut imajinasiku sendiri. Melihat akting Sherina yang alamiah dengan pipi segembul mangga muda, aku menoleh untuk melihat putriku sendiri. Anak yang lahir dari kemampuan kami yang sederhana. Kepadanya belum bisa kuberikan kursus balet, kursus bahasa, kursus piano, kursus vokal, kursus wushu... seperti yang telah diperkenalkan kepada Sherina sejak balita.
Kepada anakku, paling banter baru bisa aku ikutkan kursus menghitung cepat yang pernah jadi wabah itu. Begitu cepatnya kemampuan menghitung itu hingga kalkulator sendiri tak berdaya melawannya. Tetapi sebelum kecepatan anakku dalam menghitung itu benar-benar menggila, aku telah menghentikannya. Aku ketakutan jika kecepatan menghitung itu sudah dia punya, tetapi yang dihitung ternyata tidak ada.
Aku mungkin tidak sangup memberikan seluruh kursus terbaik pada anakku. Tetapi setidaknya aku masih bisa mengajarkannya untuk tidak mudah tertipu, sibuk mengajaknya menghitung barang-barang yang bukan miliknya. Aku tidak ingin anakku ngebut dan bergaya di jalan raya dengan sepeda motor yang tengah macet angsuran kreditnya.
Kini Sherina telah dewasa, tetapi rasa cemburuku pada keluarganya malah kian bertambah saja. Seandainya seluruh keluarga di Indonesia memiliki kesempatan serupa, anak-anak di negeri ini, tentu lebih mudah bergembira, lebih mudah menemukan dirinya. Di album terbarunya, album remajanya yang pertama, kekuatannya sebagai anak muda itu hadir penuh. Ia menghapus seluruh bayang-bayang masa kecilnya tanpa harus menjadi pemberontak yang marah. Tidak seperti pejabat baru yang bahkan membenci hingga ke kursi yang diduduki pejabat lama.
Sebuah pemberontakan yang tenang, pasti dan amat percaya diri yang cuma mungkin muncul dari pribadi lengkap lauk pauk hidupnya. Inilah yang di dalam industri agro adalah hasil dari teknik sonic bloom itu.
Bahkan tanaman pun jika kepadanya diasupkan nutrisi organik, didengarkan bunyi-bunyian yang selaras dengan habitatnya akan segera merangsang pertumbuhannya.
Pasti tidak semua anak Indoneisa punya berkesempatan tumbuh selengkap Sherina. Tetapi jika setidaknya mereka tumbuh dengan cinta yang semestinya, anak-anak itu, pasti akan mudah menemukan kehidupannya.
(/Prie GS)
Last edited by ucup889; 14-04-2008 at 23:44.
Sabtu, 18 Agustus 2007 20:02:00
Toko Lintas Agama Prihatin Rakyat Belum Nikmati Kemerdekaan
Jakarta- RoL-- Sejumlah tokoh lintas agama yang tergabung dalam Komite Indonesia untuk Agama dan Perdamaian atau Indonesian Committee on Religions for Peace (IComRP) menyatakan prihatin bahwa masih ada rakyat Indonesia yang belum menikmati kemerdekaan hakiki.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan mengatakan bahwa secara formal bangsa Indonesia memang telah merdeka, tapi hakekat kemerdekaan belum dicapai. "Dulu dikatakan Presiden Soekarno bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas untuk mencapai keadilan, kemakmuran bagi seluruh bangsa. Tapi, sudah 62 tahun, masih ada kemiskinan, kebodohan, dan pengangguran," kata Amidhan dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu.
Hal sama juga disampaikan Ketua Umum Generasi Muda Buddhis Indonesia Lius Sungkharisma yang menegaskan bahwa kemerdekaan adalah kemakmuran dan kesejahteraan. "Memang saat ini, kita sudah merdeka selama 62 tahun. Tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dan kalau masih ada yang kurang adalah tanggung jawab kita bersama," katanya.
Ketua Umum IComRP, yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, kemerdekaan secara hakiki memang belum dinikmati bangsa Indonesia. "Apa yang dicita-citakan para pendiri bangsa belum sepenuhnya terwujud, masih ada kemiskinan, kebodohan, korupsi, pengangguran, ketidakadilan, serta penyelewengan kekuasaan dan dominasi asing di bidang politik, ekonomi, dan budaya," katanya.
Oleh karena itu, IComRP mendorong kepada semua pihak agar bekerja keras dalam kebersamaan, dalam masyarakat majemuk, pluralisme atas dasar agama dan suku bangsa. "Kami mendesak pemerintah dan seluruh komponen bangsa untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut," ujarnya.
Din menegaskan, NKRI yang kuat dan maju akan terwujud bila kehidupan kebangsaan menjamin dan mengembangkan pluralisme dan kemajemukan sebagai modal sosial bangsa, dan menghindari konflik baik horisontal dan vertikal baik di tingkat pimpinan maupun masyarakat.
"Satu hal yang penting, kita juga menolak adanya segala bentuk separatisme," demikian Din Syamsuddin. Dalam acara tersebut, setidaknya dihadiri sekitar 19 orang dari perwakilan tokoh agama, selain Din Syamsuddin, Amidhan, dan Lius Sungkharisma, hadir juga Jos Soetomo (Ketua Penasehat PITI), Justin Djogo (FKKJ), Susana (Wanita Katolik Indonesia), Syarif Tanudjaja (PITI).
Hadir juga Philip K.Widjaja (WALUBI), Gustaf Dupe (FKKJ), Richard Daulay (Sekum PGI), Paulus Harli (Ketum Presidium ISKA), Ichwan Sam (Sekum MUI), dan Theophilus Bela (Ketum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta). antara
Airmata mutiara
Anak kerang di dasar laut menangis sebab sekerikil pasir tajam masuk tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang Ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberi kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."
Si Ibu terdiam, sejenak, "Sakit sekali, Ibu tahu anakku. Tapi terimalah sebagai takdir alam. Kuatkan hati. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangat,lawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balut pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat Bundanya. Ada hasilnya, tapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah sakitnya, ia meragu nasihat ibunya.
Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tanpa disadari sebutir mutiara terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar & tidak berasa lagi.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita & gemblengan bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
****** Banyak orang yang mundur saat berada di lorong proses tersebut, karena mereka tak tahan dengan cobaan. Ada 2 pilihan yang bisa mereka pilih : menjadi `kerang biasa' yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'.
Sayang, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.
Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu.
Tapi coba utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu..
"Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara."
Last edited by ucup889; 23-08-2007 at 18:09.
Selasa, 11 September 2007 WACANA![]()
Ketika Karcis Tol pun Minta Digratiskan
Dewan Perwakilan Rakyat baik di pusat maupun daerah selama beberapa tahun terakhir ini selalu mengumbar ironi.
Ya ironi yang ujung-ujungnya menyakitkan hati rakyatnya sendiri. Apalagi persoalannya kalau tidak di sekitar uang, gaji, fasilitas dan faktor-faktor penunjang kesejahteraan lainnya. Terkadang mereka lupa bahwa semua yang dilakukan itu disorot publik. Mereka tak sungkan bahkan tak perlu merasa malu mengambil keputusan yang pada hakikatnya hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri.
Sayangnya protes atau ramai-ramai di media massa hanya sebentar. Setelah itu keputusan tetap berjalan dengan mulusnya.
Masih kita ingat bagaimana anggota DPR diberi fasilitas lengkap sampai ke mesin cuci.
Mereka pun minta laptop padahal belum tentu membutuhkan bahkan mungkin banyak yang belum bisa atau terbiasa menggunakan.
Itu adalah sekadar contoh di samping yang lain.
Sekarang terungkap hal yang semakin ironis yakni anggota DPR ternyata diberi fasilitas melewati jalan tol secara gratis.
Pada saat rakyat masih memprotes kenaikan tarif tol yang dinilai kurang adil dan memberatkan. Karena kenaikan itu tidak diimbangi dengan perbaikan pelayanan. Lalu apa maunya para wakil rakyat kita? Terkadang sampai sulit untuk berkomentar lagi.
Ini memang bukan soal uang ratusan juta atau miliaran rupiah. Tetapi fasilitas gratis seperti itu tak ada bedanya dengan penyalahgunaan kekuasaan.
Pemberian selalu ada embel-embelnya atau semacam suap untuk memuluskan jalan bagi pengambilan keputusan kenaikan tarif tol.
Anehnya lagi, anggota DPR tidak menolak dan tampaknya senang-senang saja dengan pemberian itu.
Katakanlah bukan gratifikasi atau masuk kategori pemberian yang kurang wajar, tetapi bukankah pemberian fasilitas seperti itu secara moral sudah tidak etis. Bagaimana mereka bisa solider dan merasakan beban yang harus ditanggung rakyatnya kalau seperti itu.
Tidak semua anggota DPR menikmati fasilitas itu melainkan hanya anggota Komisi V yang membidangi masalah perhubungan.
Justru di situlah masalahnya sebab sangat jelas kaitannya karena semua itu tidak mungkin diperoleh kalau tidak terkait dengan kewenangan.
Kita tak ingin berdebat lebih jauh atau mempersoalkan itu dari segi normatifnya. Yang sangat jelas di sini adalah soal ketidakpatutan atau tidak adanya tanggung jawab moral. Ternyata para anggota dewan yang terhormat sangatlah rendah harganya.Tentu juga krediblitas dan integritasnya. Hanya untuk mengeluarkan uang tol ribuan rupiah sehari minta digratiskan.
Masih banyak contoh lain menyangkut perilaku anggota DPR dan DPRD. Mulai dari percaloan anggaran sampai dengan amplop yang banyak bertebaran dalam setiap pembahasan materi Rancangan Undang Undang.
Bagaimana kita bisa menghormati anggota Dewan meskipun itu adalah hasil pemilihan umum yang demokratis. Terlalu banyak kekecewaan yang didapat tanpa kita bisa berbuat sesuatu untuk melawan.
Memang semua bisa dijadikan catatan agar kelak tidak keliru memilih wakil rakyat. Tetapi siapa yang bisa menjamin kalau sistem pemilu legislatif masih sama yakni yang dipilih partai politik dan bukan orang.
Track record pun tak berarti sama sekali.
Biasanya mereka berdalih keperluan biaya politik yang besar apalagi yang akan maju lagi dalam pemilu mendatang. Jelas hal itu tidak bisa diterima sebab antara kepentingan pribadi, kelompok dan golongan sama sekali tak bisa disamakan dengan kepentingan umum. Haruslah jelas ke mana keberpihakan itu. Sudah terlalu banyak luka kita melihat polah tingkah mereka.
Sekarang partai politik harus berani mengambil sikap dan tidak membiarkan anggotanya berperilaku seperti itu. Kalau dibiarkan maka krisis kepercayaan terhadap parpol akan semakin meningkat. Dari situlah sebenarnya pengeroposan demokrasi berjalan.
* Begimana pulak ttg rencana mo revitalisasi gedung DPR / MPR dgn dana 40 MILYARD yak ?![]()
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan ?
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".
"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi.
"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460 derajat F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam.
There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)
Bookmarks