JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming? - Page 2
Welcome guest, is this your first visit? Create Account now to join.
  • Login:

Welcome to the CHIP Forum.

If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed.

+ Reply to Thread
Page 2 of 20 FirstFirst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 LastLast
Results 11 to 20 of 191

Thread: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?
  
Bookmark and Share

  1. #11
    Join Date
    Aug 2005
    Location
    чистилище
    Posts
    10,240
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    48

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    Jakarta lawan surabaya, mana yg lebih panas?

    Jakarta panas terbakar karena bus, angkot, mobil, motor, dan adakah di sini yg mau mulai berjalan kaki ato naik sepeda untuk mengurangi panas? ato adakah yg mau solusi paling bagus: balik ke kampung!?!?.

    gak ada khan? enjoy lah the hot and bright jakarta.
    kenyataan tentang orang indonesia:
    http://forum.chip.co.id/2696114-post12.html

  2. #12
    Join Date
    Aug 2004
    Location
    Makassar, Indonesia
    Posts
    2,733
    Thanks
    3
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Rep Power
    24

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    jangankan jakarta, makassar aja panasnya kalau siang minta ampun..kayak di panggang.

  3. #13
    Join Date
    Jun 2005
    Location
    jakarta
    Posts
    1,076
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    16

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    susahhh susahhh... panas ini timbul akibat nafsunya manusia juga yg sebenrnya jug gak penting2x banget, tapi banyak diantaranya karena gaya hidup doang.

    coba baca artikel ini !
    (dari kemaren gw kasih artikel molo deh)

    Goenawan Mohammad
    Majalah Tempo Edisi. 10/XXXIIIIIII/ 07 - 13 Mei 2007.

    Jika anda berdiri di salah satu sudut Senayan City , anda akan tahu
    bagaimana malam berubah sebagaimana juga dunia berubah. Di ruangan yang
    luas dan disejukkan pengatur udara, cahaya listrik tak pernah putus. Iklan
    dalam gambar senantiasa bergerak, bunyi musik menyusup lewat ratusan iPod
    ke bagian diri yang paling privat, dan lorong-lorong longgar itu memajang
    bermeter-meter etalase dengan busana dan boga. Sepuluh, bukan, lima tahun
    yang lalu, malam tidak seperti ini. Juga dunia, juga kenikmatan dan
    kegawatannya.

    Hari itu saya duduk minum kopi di salah satu kafe di salah satu mall di
    Jakarta, dan tiba-tiba saya merasa bodoh: saya tak tahu berapa
    mega-kilowatt listrik dikerahk an untuk membangun kenikmatan yang tersaji
    buat saya hari itu. Saya merasa bodoh, ketika saya ingat, pada suatu hari
    di Tokyo, di tepi jalan yang meriah di Ginza, teman
    saya, seorang arsitek Jepang, menunjukkan kepada saya mesin jajanan yang
    menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang. "Tahukah Tuan," tanyanya, "jumlah
    tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jenis ini di seluruh Jepang?

    Saya menggeleng, dan ia menjawab, Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah
    tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.

    Ia berbicara tentang ketimpangan, tentu. Ia ingin saya membayangkan
    rumah-rumah sakit yang harus menyelamatkan nyawa manusia di sebuah negeri
    miskin yang ternyata tak punya daya sebanyak 10 buah mesin
    jajanan di negeri kaya mesin yang menawarkan sesuatu yang sebetulnya tak
    perlu bagi hidup manusia.

    Saya merasa bodoh, mungkin juga merasa salah. Seandainya bisa saya hitung
    berapa kilowatt energi yang ditelan oleh sebuah mall di Jakarta, di ma na
    saya duduk minum kopi dengan tenang, mungkin saya akan tahu seberapa
    timpang jumlah itu dibandingkan dengan seluruh tenaga listrik buat sebuah
    kabupaten nun di pedalaman Flores .

    Tapi tak hanya itu sebenarnya. Kini banyak orang tahu, ketimpangan seperti
    itu hanya satu fakta yang gawat dan menyakitkan. Ada fakta lain: kelak ada
    sesuatu yang justru tak timpang, sesuatu yang sama: sakit dan kematian.

    Konsumsi energi berbeda jauh antara di kalangan yang kaya dan kalangan
    miskin, tapi bumi yang dikuras adalah bumi yang satu, dan ozon yang rusak
    karena polusi ada di atas bumi yang satu, dengan akibat yang juga mengenai
    tubuh siapa saja termasuk mereka yang tak pernah minum kopi dalam mall, di
    sudut miskin di Flores atau Bangladesh, orang-orang yang justru tak ikut
    mengotori cuaca dan mengubah iklim dunia.

    Dengan kata lain, tak ada pemerataan kenikmatan dan keserakahan, tapi ada
    pemerataan dalam hal penyakit kanker kulit yang akan menyerang dan air
    laut yang menelan pulau ketika bumi memanas dan kutub mencair. Orang India
    , yang rata-rata hanya mengkonsumsi energi 0,5 kW, akan mengalami bencana
    yang sama dengan orang Amerika, yang rata-rata menghabisi 11,4 kW.

    "Saya tak lagi berpikir tentang keadilan dunia," kata teman Jepang itu
    pula, "terlalu sulit, terlalu sulit."

    Beberapa tahun kemudian ia meninggalkan negerinya. Saya dengar ia hidup di
    sebuah dusun di negeri di Amerika Latin, membuat sebuah usaha kecil dengan
    mengajak penduduk menghasilkan sabun yang bukan jenis detergen, mencoba
    menanam sayuran organik sehingga tak banyak bahan kimia yang ditelan dan
    dimuntahkan. Tapi kata-katanya masih terngiang-ngiang, "terlalu sulit,
    terlalu sulit."

    Mungkin memang terlalu sulit untuk menyelamatkan dunia. Saya baca hitungan
    itu: dalam catatan tahun 2002, emisi karbon dioksida dari seluruh Amerika
    Serikat mencapai 24% lebih dari seluruh emisi di dunia, sedangkan dari
    Vanuatu hanya 0,1%, tapi naiknya permukaan laut di masa depan akibat
    cairnya es di kutub utara mungkin akan menenggelamkan negeri di Lautan
    Teduh itu dan tak menenggelamkan Amerika.

    Ingin benar saya tak memikirkan ketidakadilan dunia, tapi manusia juga
    menghadapi ketidakadilan antargenerasi. Mereka yang kini berumur di atas
    50 tahun pasti telah lama menikmati segala hal yang dibuat lancar oleh
    bensin, batu bara, dan tenaga nuklir. Tapi mungkin sekali mereka tak akan
    mengalami kesengsaraan masa depan yang akan dialami mereka yang kini
    berumur 5 tahun. Dalam 25 tahun mendatang, kata seorang pakar, emisi C02
    yang akan datang dari Cina bakal dua kali lipat emisi dari seluruh wilayah
    Amerika, Kanada, Eropa, Jepang, Australia, Selandia Baru. Apa yang akan
    terjadi dengan bumi bagi anak cucu kita?

    "Terlalu sulit, terlalu sulit," kata teman Jepang itu.

    Ekonomi tumbuh karena dunia didorong keinginan hidup yang lebih layak.
    "Lebih layak" adalah sesuatu yang kini dikenyam dan sekaligus
    diperlihatkan mereka yang kaya . Kini satu miliar orang Cina dan satu
    miliar orang India memandang mobil, televisi, lemari es, mungkin juga baju
    Polo Ralph Lauren dan parfum Givenchy sebagai indikator kelayakan, tapi
    kelak, benda-benda seperti itu mungkin berubah artinya. Jika 30% dari
    orang Cina dan India berangsur-angsur mencapai tingkat itu seperempat abad
    lagi, ada ratusan juta manusia yang selama perjalanan seperempat abad
    nanti akan memuntahkan segala hal yang membuat langit kotor dan bumi
    retak. Seperempat abad lagi, suhu bumi akan begitu panas, jalan akan
    begitu sesak, dan mungkin mobil, lemari es, baju bermerek, dan perjalanan
    tamasya hanya akan jadi benda yang sia-sia.

    Mungkin orang harus hidup seperti di surga. Konon, di surga segala sesuatu
    yang kita hasratkan akan langsung terpenuhi. Itu berarti, tak akan ada
    lagi hasrat. Atau hasrat jadi sesuatu yang tak relevan; ia tak membuat
    hidup mengejar sesuatu yang akhirnya sia-sia.

    Tapi akankah saya mau, seperti teman Jepang itu, pergi ke sebuah dusun di
    mana tak ada mall, tak ada bujukan untuk membeli, dan hidup hampir seperti
    seorang rahib? Di mall itu, saya melihat ke sekitar. Terlalu sulit,
    terlalu sulit, pikir saya.

  4. #14
    Join Date
    Apr 2006
    Location
    Hinamizawa
    Posts
    1,438
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    16

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    Ge dulu bikin thread "selamatkan bumi", yang bales kaya' gak acuh aja..

    Daripada ngurus2in masalah legalitas wa***, lebih baik kita fokus untuk memecahkan
    masalah yang jauh lebih serius ini.. kita mulai dari jangan membuang sampah sembarangan.

    Untuk yang naek kendaraan pribadi, mulai sekarang di perkecil pemakaiannya.
    pertanyaanya.. sanggup kah anda?

    Yang pake' pc, diusahakan kalo lagi idle, monitornya dimatikan. sewaktu
    booting monitornya gak usah di nyalain dulu, tunggu pas windows start event sound
    kedengeran, baru nyalain.

    Terlalu sulit? Namanya juga dunia, penuh nikmat, dan juga penuh penderitaan..
    gak bisa jadi alasan untuk tidak melakukannya.
    Last edited by vaporizel; 26-11-2007 at 15:51.
    PC MAV IS DEAD



  5. #15
    Join Date
    Sep 2005
    Location
    SMG-SBY-PP
    Posts
    7,016
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    37

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    humm...walaupun wa biasa tinggal dan berpanas2 ria di surabaya...wa juga merasa di sini makin panas aja...lebih panas dari biasanya..

    panasnya sekarang panas kering, bukan panas lembap. Karena itu ga hujan2 sejak lama...padahal awal bulan ini sering hujan -_-

    adakah badai yang mendekat ke indonesia?? Atau tragedi El-Nino terulang kembali?

    My anime-dorama list, update= 26/09/08 - 13:46 HERE!!

  6. #16
    Join Date
    Mar 2007
    Location
    Tangerang
    Posts
    2,349
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    18

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    Gokiillll.....JaBoDeTaBek blakangan ini panasnya minta ampun!

    Gw naik motor keluar bentar aja....Tangan & Kaki gw kaya ditusuk jarum gitu kepanasan!

  7. #17
    Join Date
    Aug 2004
    Location
    Makassar, Indonesia
    Posts
    2,733
    Thanks
    3
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Rep Power
    24

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    setuju dengan yang diatas

    setidaknya kita berusaha berbuat walaupun kecil untuk menolong lingkungan kita, misalnya tidak mengaktifkan perangkat listrik jika tidak dibutuhkan, walaupun itu kecil, saya lebih senang mematikan layar komputer daripada membiarkan dalam kondisi standby, mematikan printer jika tidak dibutuhkan dan jika selesai digunakan lebih baik dimatikan dan dinyalakan pada waktu digunakan. itu salah satu contoh bagaimana menghemat energi dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk membantu lingkungan menjadi lebih sehat.

    walaupun kelihatan sepela tapi....

    sebuah langkah kecil untuk perubahan besar.

    waktu kerja di salah-satu bank, kadang saya juga prihatin dengan teman-teman lain pengguna komputer, kadang kalau sudah pulang kerja komputer tidak dimatikan karena mereka tahu bahwa EDP akan memeriksa seluruh komputer pada waktu hendak tutup kantor, bayangkan jika 100 komputer hidup dan ternyata tdk digunakan, mereka pikir sih masalah sepele bukan mereka yang bayar listrik tapi perusahaan, tapi mereka tidak berpikir bagaimana susahnya PLN menyuplai listrik,giliran pemadaman mereka hanya protes tanpa memikirkan perbuatan mereka menghambur-hamburkan energi.

  8. #18
    Join Date
    Jan 2005
    Location
    Bikini Bottom
    Posts
    2,903
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    23

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    akhirnya pertanyaan gw sedikit terjawab (brp kira2 konsumsi energi manusia), yg di bawah ini sepertinya konsumsi per hari ya?
    Orang India, yang rata-rata hanya mengkonsumsi energi 0,5 kW, akan mengalami bencana yang sama dengan orang Amerika, yang rata-rata menghabisi 11,4 kW.

  9. #19
    Join Date
    Aug 2006
    Location
    Behind Computer
    Posts
    499
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    12

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    ato setidaknya kita kembali ke dulu, ngitung pake sempoa????

    Tapi dirumah wa sudah mulai energi conservation, water heater menggunakan solar energy, listrik untuk sebagian alat2 elektronik juga ud mulai dihidupkan dengan solar cell...

    Jalan deket kita pake speda aja yuk, jangan kayak tetangga gw, pergi jarak 10 meter aja musti pake mobil... ckck gengsi ato males??
    ---------------------------------------------------
    Controlling the World, One Step at a time

    ~ I’m always ready to learn, but I do not always like to be taught.~


  10. #20
    Join Date
    Jul 2005
    Location
    Bandung - Jawa Barat
    Posts
    1,070
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    16

    Re: JAKARTA PANAS TERBAKAR! Masih ga peduli ma global warming?



    Jakarta ama Surabaya mah masih kalah dibandingkan di Kalimantan Timur, khususnya Bontang,
    taon lalu pas gw pulang dari jakarta ke sini, wuuh terasa bgt panasnya, kayak dipanggang padahal kotanya sepi, banyak hutan, banyak pohon, jarang macet,

    terus, yg paling aneh tuh, pagi2 nya bisa panas bgt, eh siang nya ujan deras, terus sore panas lagi,

    malah pernah di rumah gw ujan, eh pas di sekolah gw panas, jadi gw diketawain gara2 baju gw basah semua padahal panas2


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts