Hall of inspiration
Welcome guest, is this your first visit? Create Account now to join.
  • Login:

Welcome to the CHIP Forum.

If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed.

+ Reply to Thread
Page 1 of 23 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 ... LastLast
Results 1 to 10 of 225

Thread: Hall of inspiration
  
Bookmark and Share

  1. #1
    Join Date
    Mar 2006
    Location
    menunggu Mu.....
    Posts
    4,374
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Rep Power
    33

    Hall of inspiration



    Serambi 03-07-2007

    Bahu Membahu Membela yang Keliru


    Seorang yang baru keluar dari ruang ATM ini sama sekali tak memberitahu bahwa mesin uang itu rusak sementara sayalah satu-satunya pihak yang menunggu di dekatnya.

    Ia ngeloyor begitu saja dan saya harus mengalami soal yang sama, sebuah kesialan yang sama sekali tak perlu jika orang ini mau sedikit saja berderma dalam bentuk memberi tahu.

    Sebetulnya saya tak benar-benar butuh jasanya. Karena di negara saya orang cuek seperti itu tak terhitung banyaknya. Maka ketimbang harus tersinggung setiap hari lebih baik menganggap pemandangan itu sebagai soal yang jamak saja.

    Karena ada saja angkutan kota yang dengan tekun menunggu penumpang sambil tak merasa jika ia tengah mengangkangi jalan dan menimbulkan kemacetan panjang di belakangnya. Masih ada saja sopir taksi yang seluruh kabinnya pengap oleh asap rokok sehingga bau taksi itu tak lebih dari sebuah asbak besar.

    Lumayan jika cuma rokok. Beberapa sopir di antaranya malah masih ada yang tega mengencingi mobilnya sendiri begitu kebelet tiba. Sopir ini cukup hanya dengan membuka pintu dan menjadikannya sebagai dinding toilet portable, habis perkara. Jika taksi lain ada yang sekadar berbau asbak, taksi yang ini malah telah menjadi WC umum.

    Jangan tanya pula tentang banyaknya perokok yang salah ruang. Tidak cuma di bus-bus omprengan yang pengap dan sesak, di restoran-restoran yang jelas-jelas serba tertutup dan berpendingin ruangan, tetapi juga di rumah-rumah mereka sendiri.

    Ada seorang bapak yang sedang menimang bayinya lengkap dengan rokok mengepul seperti ketel uap dari mulutnya, dengan bayi sendiri sebagai penadahnya.

    Maka jangankan orang lain, bahkan bayi sendiri pun diasapi.

    Jadi jika cuma ada seseorang yang enggan memberi tahu tentang mesin ATM yang rusak kepada pemakai berikutnya, adalah soal yang harus dimaafkan dan kalau perlu malah disambut gembira.

    Di Indonesia, cadangan maaf memang harus demikian besarnya karena jumlah pelanggaran dan kesalahan seperti jauh di atas jumlah maaf yang tersedia.

    Walau yang belangsung itu sesungguhnya pasti bukan lagi peristiwa maaf-memaafkan tetapi sudah menyerupai sikap putus asa.

    Putus asa kerpada jumlah pelanggaran yang telah di luar takaran itulah yang kemudian membuat kita secara bersama-sama memiklih diam dan seolah-olah sabar terhadap kesalahan.


    Itulah keadaan yang disebut oleh Stephen Covey sebagai konspirasi gelap.


    Konspirasi yang tidak terang-benderang, seolah-lah tidak ada tetapi begitu nyata dan ganas daya rusaknya. Karena konspirasi ini ibarat seorang yang sedang berlari bersama-sama, saling bantu-mebantu, dorong mendorong, tarik-menarik tetapi cuma untuk masuk ke lubang secara berjamaah.

    Konspirasi semacam inilah yang rasanya sedang berlangsung di sekujur
    urusan, secara intensif, pasti dan berbahaya. Itulah keadaan saling mendukung, bahu-membahu di dalam kekeliruan. Maju tak gentar mendukung sang onar!

    Maka bisa dimengerti kenapa jumlah keterlanjuran kita besar sekali.

    Untuk membersihkan bantaran sungai dari bangunan liar misalnya, harus menunggu seluruh bantaran itu benar-benar menjadi perkampungan terlebih dulu.

    Akhirnya normalisasi sungai yang hendak dicanangkan cuma terpenjara di dalam pencanangan karena ia tak mungkin lagi dijalankan.

    Kampung di bantaran itu benar-benar telah menjadi sebuah desa dan pengusiran tehadapnya hanya akan menimbulkan perang terbuka.

    Saya pernah tampil di acara interaktif di televisi memandu seorang pejabat dengan seorang penelpon yang demikian marah pada pengelolaan sampah di kotanya. Begitu marahnya sehingga yang ia lakukan ialah bagaimana caranya agar ia bisa sekuat mungkin ikut mengotori kota.

    Membuang seluruh sampah ke sungai dekat tempat tinggalnya itulah yang putuskan sambil barangkali membayangkan wajah pejabat yang dibencinya. Inilah konspirasi gelap itu; keadaan ketika seorang bisa membenci sebuah kesalahan sambil ikut berbuat rusak sekalian. Jadi memang ada jenis gotong royong kelabu , bahu membahu membela yang keliru!
    (Prie GS/)
    Last edited by ucup889; 14-04-2008 at 23:51.
    "To know your faults and be able to change is the greatest virtue."

  2. #2
    Join Date
    Jan 2007
    Location
    Jakarta City of Blue
    Posts
    119
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    10

    Re: Intermezo - Renungan



    hihihi again intinya.. start from yourself and keep stock a whole big quantity of forogiveness
    If falling in love was a dumb then I was dumb for rest of my life. Since I have fall numerously due to smile.



  3. #3
    Join Date
    Feb 2007
    Location
    Kost (home sweet home)
    Posts
    6,570
    Thanks
    9
    Thanked 10 Times in 10 Posts
    Rep Power
    35

    Re: Intermezo - Renungan



    yup... start from your self
    dan untuk kebaikan diri sendiri jangan urusin masalah orang lain.... (tindakan salah tapi tidak mengurangi jumlah umur karena stres dan masalah lainnya )

    tindakan sekarang emang banyak yang salah tapi mau gimana lagi
    itu sudah jadi budaya
    jadi ya tergantung diri kita filter tuh budaya

    ini cuma contoh kecil cuma saya abis minum gelas aqua sayangnya jarak tong sampah terdekat adalah 100meter++
    budaya kita kan ga mau susah (sama seperti kisah ts dimana orang tsb ngak mau susah kasih tau ke TS kalo atmnya rusak)
    terpaksa deh buang ke tempat sampah jejadian (spot yang menjadi tempat sampah karena orang2 sering membuang sampah disana)
    Last edited by testakraze; 08-07-2007 at 01:19.
    Tashikame aeru kotoba wo kurete kamisama arigatou
    Thank you God for giving us words so that we can understand each other

    WD used to be a great hard drive company. Until they took an arrow to the knee.




  4. #4
    Join Date
    Mar 2006
    Location
    menunggu Mu.....
    Posts
    4,374
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Rep Power
    33

    Re: Intermezo - Renungan



    Wawancara
    09-07-2007Ignas Kleden:

    Separatisme Hanyalah Humor Kekuasaan


    MARTABAT negeri ini sedang dipertanyakan.

    Berbagai persoalan: larangan terbang pesawat Indonesia ke Eropa, penganiayaan tenaga kerja wanita di luar negeri, dan ancaman disintegrasi bangsa tak bisa lagi dielakkan.
    Ada yang salah dalam sistem sosial dan kebudayaan kita? Mengapa kita tak bisa segera bangkit dari keterpurukan?

    Ignas Kleden, salah satu pemikir kebudayaan Indonesia, sedih sekali melihat kenyataan itu.

    Karena itu berbincang-bincang dengan media ini di Kantor Komunitas Indonesia untuk Demokrasi Jalan Tirtayasa VII 1 Kebayoran, Jakarta, Jumat lalu, Ketua Komunitas Indonesia untuk Demokrasi ini, memberikan beberapa saran perbaikan. Berikut petikan perbincangan itu.

    Negeri ini benar-benar terpuruk. Oleh Eropa, misalnya, maskapai penerbangan kita dilarang terbang di wilayah mereka. Bukan hanya itu. Tenaga kerja Indonesia juga kerap dilecehkan di negeri orang. Menurut Anda bagaimana cara kita mengatasi persoalan ini? Apakah ada jalan kebudayaan tertentu yang harus ditempuh?

    Yang Anda sebutkan adalah problem yang berasal dari tindakan yang diambil pemerintah kita saat ini. Ini tidak bisa dikatakan sebagai cerminan masyarakat pada umumnya. Tentu kita tidak menghendaki kondisi seperti ini.
    Juga jika dibandingkan dengan pemerintah sebelumnya, saya bayangkan saat Bung Karno atau Pak Harto misalnya, mungkin tidak terjadi hal-hal seperti itu. Kondisi ini harus kita jadikan pelajaran berarti dan segera diperbaiki.
    Mengenai apakah ada jalan kebudayaan yang bisa menjadi pencerah keterpurukan, saya katakan hal itu pasti ada. Kita toh punya potensi kebudayaan yang diakui oleh dunia internasional.
    Mengenai kebudayaan ini akan saya khususkan pada kesenian. Kita punya tokoh-tokoh yang mendapat tempat terhormat di dunia.
    Kita bukan hanya punya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, tapi juga memiliki penyair Sapardi Doko Damono, teaterwan Putu Wijaya, penyair Goenawan Mohamad, penari Sardono W Kusumo, dan Retno Maruti.
    Mungkin dalam ilmu pengetahuan dan teknologi kita kalah dari negara lain. Juga di bidang olahraga kita masih kurang. Jadi untuk bidang kebudayan khususnya kesenian kita punya jalan konkret untuk menaikkan martabat kita di mata dunia. Inilah yang membuktikan kita sebagai bangsa berbudaya tinggi.

    Sebagai bangsa unggul, mengapa budaya positif belum juga jadi warna utama perpolitikan kita? Konflik Presiden dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seperti tak memiliki jalan keluar. Malah yang lebih tragis, gerakan sparatisme kian merebak.

    Ini terjadi karena sumber daya manusia (SDM) di bidang politik belum dipenuhi oleh figur-figur terbaik. Rekrutmen menjadi anggota legislatif, misalnya, sampai saat ini belum melewati mekanisme yang menjamin ada quality control.
    Belum tampak betapa yang diletakkan pada nomor urut atas adalah yang terbaik di partai politik bersangkutan. Saat ini semua itu ditentukan oleh elite partai dan kita tidak atau belum bisa menentukan. Jadi ada pertanyan atau keraguan, apakah benar mereka yang di nomor urut atas tersebut benar-benar terjamin keunggulannya atau malah di bawah rata-rata syarat sebagai politikus yang baik.
    Padahal di satu sisi DPR ini menjalankan fungsi quality control melalui mekanisme fit and proper test. Jadi anggota DPR yang mungkin tidak memenuhi harapan kita, ternyata justru ikut menentukan siapa-siapa yang duduk dalam posisi strategis di pemerintahan negeri ini. Seperti saat pemilihan Gubernur Bank Indonesia, Panglima TNI, Hakim Agung dan sebagainya.
    Karena juga belum seperti yang kita harapkan, maka wajar kalau mereka terlalu mudah terjebak untuk kepentingan sesaat.
    Mengenai berbagai pernyataan bahwa gerakan sparatisme kini seakan bangkit kembali, saya kok melihatnya kita ini terlalu memberikan tanggapan yang serius sekali.
    Ini humor kekuasaan. Mengapa demikian? Sebab jika ingin masuk beneran, mereka akan tidak hanya bawa bendera Republik Maluku Selatan (RMS), tapi juga senjata. Saya melihat aksi itu hanya sebagai cara mereka berekspresi untuk menunjukkan ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat.

    Upaya pengibaran bendera RMS, saya kira hanya bermakna simbolik. Ya tidak sampailah mereka benar-benar menyatakan ingin merdeka. Jadi jangan sampai kita katakan insiden di Ambon itu mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Itu hanya sebuah peringatan kepada pemerintah pusat bahwa, "Hati-hati jika kami tidak diperhatikan, terutama kesejahteraan, soalnya RMS masih ada lho."

    Begitu juga yang terkait dengan pengibaran bendera Bintang Kejora di Jayapura. Mengenai Papua saya rasa resep yang paling mujarab bagi mereka adalah pemerintah memberikan perhatian khusus. Harus ada perhatian terhadap masaah-masalah besar yang terjadi di sana.
    Misalnya masalah keterbelakangan orang Papua dibandingkan dengan pendatang dan ketertinggalan mereka dalam bidang ekonomi di tanah mereka sendiri.
    Nasib dan masa depan mereka kan masih gelap gulita.
    Bagaimana sebenarnya pembagian dari peruntungan perusahan pertambangan besar di sana bagi pembangunan masyarakat Papua, ternyata juga masih belum jelas.
    Pengibaran bendera Bintang Kejora sebagai tekanan agar pemerintah meperhatikan mereka. Jadi resepnya adalah pemerintah memberikan kesejahteraan dan keadilan kepada warga.
    Bukan malah memberikan tekanan dengan jalan kekerasan. Jika di sana banyak dibangun jalan, sekolah serta pelayanan kesehatan terjamin, maka segala omong kosong tuntutan merdeka akan mereda dengan sendirinya.

    Saat ini suasana lebih demokratis, namun masyarakat masih dilanda keterpurukan di bidang ekonomi sehingga banyak yang berpikir lebih baik kembali ke zaman orde baru. Bagaimana pendapat Anda menanggapi hal itu?

    Yang pertama, kesejahteraan rakyat memang harus diberikan oleh sistem yang demokratis.
    Akan tetapi, demokrasi itu punya tugas yang lebih dari sekadar menyejahtrakan rakyat secara ekonomi.
    Demokrasi itu memunyai tujuan agar setiap orang terjamin hak-haknya, mempunyi kedudukan yang sama di mata hukum, masyarakat terjamin mendapatkan pelayanan sesuai martabat kemanusian, dan mendapatkan pelayanan yang manusiawi dari pemerintah.
    Menurut saya adalah logika yang berbahaya jika kita berpikir bahwa jika demokrasi tidak juga membawa kesejaheraan, lebih baik kembali kepada zaman orde baru yang otoriter. Karena sekali kita kembali ke pemerintahan yang otoriter demi mengejar kesejahteraan dengan cepat, maka tidak akan ada lagi kesemptan bagi kita untuk mengembalikan pemerintahan ini ke sistem yang demokratis.
    Kita tidak boleh tawar-menawar dan harus dikatakan kita memang perlu sistem pemerintahan yang demokrtis.
    Begitu juga dengan pemikiran bahwa demokrasi baru cocok diterapkan di Indonesia setelah rakyat mencapai pendapatan 6000 dolar AS, itu adala nonsens belaka.
    Menurut saya kita masih seperti ini, masih terpuruk dalam bidang ekonomi. Ya karena kita masih kurang dalam berdemokrasi. Kita lihat mengapa rakyat di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih juga dilanda kelaparan? Kalau benar-benar aspirasi mereka diperhatikan, saya yakin NTT t idak terus-menerus kelaparan. DPR kan punya tim ahli, mitrapemerintah, yaitu departemen terkait.
    Seharusnya mereka bisa membuat langkah untuk memecakan masalah di NTT. Tidak malah sibuk meributkan interpelasi

    (Hartono Harimurti/35)
    Last edited by ucup889; 14-07-2007 at 08:18.

  5. #5
    Join Date
    Mar 2006
    Location
    menunggu Mu.....
    Posts
    4,374
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Rep Power
    33

    Re: Intermezo - Renungan



    Jumat, 04 Mei 2007,
    Orang Islam, Bukan Golongan Islam

    KH Abdurrahman Wahid;

    Benturan antar "kebenaran" terjadi saat orang berani mengambil-alih fungsi Tuhan. Padahal, dalam ajaran tauhid, urusan kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan. Demikian refleksi KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagaimana dituturkan berulang-ulang kepada Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) di Radio 68H, Jakarta.
    ---------------

    Umat Islam sering dikaitkan dengan radikalisme dan kekerasan. Menurut Gus Dur, apa yang salah?
    Persoalannya adalah ketidakmengertian. Mereka yang melakukan kekerasan itu tidak mengerti bahwa Islam tidaklah terkait dengan kekerasan. Itu yang penting. Ajaran Islam yang sebenar-benarnya -saya tidak memihak paham mana pun, baik Ahlus Sunnah, Syi’ah, atau apa pun- adalah tidak menyerang orang lain, tidak melakukan kekerasan, kecuali bila kita diusir dari rumah kita. Ini yang pokok.

    Kalau seseorang diusir dari rumahnya, berarti dia sudah kehilangan kehormatan dirinya, kehilangan keamanan dirinya, kehilangan keselamatan dirinya. Hanya dengan alasan itu kita boleh melakukan pembelaan.

    Bagaimana cara menanggulangi radikalisme itu, Gus?
    Ya, kita tidak boleh berhenti menekankan bahwa Islam itu agama damai. Dalam Alquran, ajaran tentang itu sudah penuh. Jadi, kita tidak usah mengulang-ulang (pernyataan) lagi bahwa Islam itu damai dan rasional. Hanya, memang ada sisi-sisi lain dari Islam yang kurang rasional. Tapi kalau dipikir-pikir lagi secara mendalam, jangan-jangan itu rasional juga.

    Jadi, dengan begitu, kita tidak boleh serta merta memberikan judgement, pertimbangan, penilaian. Jangan! Kita harus benar-benar tahu latar belakang mengapa seseorang melakukan kekerasan. Tapi biasanya, yang pura-pura (Islam) itulah yang paling keras.

    Menentang pemerintahan yang zalim apakah bisa disebut jihad?
    Kita tetapkan dulu: pengertian jihad itu apa? Jihad adalah berperang di jalan Allah. Kalau tidak begitu, ya berarti jihad dalam pengertian lain. Banyak macam jihad, yaitu jihad ashghar (terkecil), shâghîr (kecil), kabîr (besar), dan akbar (terbesar). Ayatullah Khomaini pernah mengatakan bahwa jihad ashghar atau jihad yang terkecil adalah menegakkan keadilan. Tapi, itu tergantung niat Anda juga.

    Kalau niat Anda berjihad kecil hanya untuk merobohkan pemerintahan, hasilnya ya, merobohkan pemerintahan saja. Di sini kita bisa kiaskan dengan ungkapan Alquran yang menyebutkan itu tergantung pada orangnya.

    Kalau seseorang mau hijrah karena Allah dan utusan-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan utusan-Nya. Tapi kalau hijrahnya demi harta benda atau perempuan yang akan dinikahi, ya, hijrahnya akan sampai pada apa yang akan dia hijrai itu.

    Sama saja dengan cara kita dalam menilai jihad. Luarnya bisa saja seperti jihad, tapi dalamnya kita nggak tahu. Makanya, jangan gegabah dalam soal ini. Nggak gampang (menilainya, Red).

    Bagaimana menentukan sikap Islam yang benar dalam kompleksitas kehidupan dunia ini?
    Sikap Islam yang benar adalah sikap yang sesuai dengan ajaran pokok Islam. Ajaran pokok Islam ialah: Tuhan itu satu. Jadi, kita dituntut untuk mematuhi ajaran Tuhan, saling mengasihi, dan sebagainya.

    Kita harus saling mengasihi antarmanusia. Kalau mau lebih disempurnakan, ya silakan. Itu kan urusan masing-masing. Tapi kalau ada orang yang berpendirian lain, ya nggak apa-apa juga.

    Mana yang lebih baik, UU buatan manusia atau apa yang sering disebut "hukum Tuhan"?
    Yang perlu dilihat itu segi pemakaiannya, jangan bikinannya. Quran itu memang bikinan Tuhan dan kita pakai pada saatnya. Sedangkan UUD itu buatan manusia dan kita pakai juga pada tempatnya.

    Dalam kehidupan bernegara, kita pakai UUD. Dalam kehidupan bermasyarakat, kita menggunakan UU Alquran. Begitu saja kok nggak tahu!

    Merupakan kewajiban pemimpin Islam untuk menjelaskan itu supaya jangan ada kekeliruan. UUD itu memang buatan manusia; jadi, kapan saja mau diubah, ya bisa saja. Kalau Alquran, penafsirannyalah yang dari waktu ke waktu berubah; dan itu juga diakui oleh Alquran sendiri.

    Bagaimana Gus Dur menafsirkan ungkapan Alquran innaddîna ’indalLâhil Islâm?

    Artinya begini: sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam. Tapi, itu kan kata orang Islam, toh? Ya sudah, selesai! Itu kan juga kata kitab suci orang Islam. Makanya, kalau orang Islam bilang begitu, ya pantas-pantas saja. Sama saja ketika agama lain mengatakan "Ikutilah aku!" Itu kata Yesus. Nah, soalnya tinggal kita ikuti atau tidak. Itu saja.

    Islam seperti apa yang paling utama bagi Gus Dur?
    Yang paling utama bukan Islam golongan, tapi orang Islam. Ingat lo, antara institusi agama dan manusianya itu berbeda. Perbedaannya sangat jauh; ada yang ikhlas, ada yang cari pangkat, cari kedudukan, cari kekayaan, dan sebagainya.

    Jadi, sangat susah menilai dan mengatakan Islam mana yang paling baik. Saya saja nggak berani ngakui bahwa Islam saya yang paling benar. Sebisa-bisanya saya jalani saja.

    Banyak sekali soal khilafiah dalam masyarakat dalam menafsirkan agama yang satu sekalipun. Apa kriteria perbedaan yang membawa rahmat itu, Gus?
    Dulu, ada perbedaan antara Muhammadiyah dan NU soal tarawih dua puluh tiga rakaat atau sebelas. Kan begitu? Semua itu sama-sama boleh. Jadi, jangan ribut hanya karena masalah seperti itu.

    Yang harus kita selesaikan adalah masalah-masalah pokok seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, dan sebagainya. Tapi, itu malah yang nggak pernah diurusi. Malah yang diributkan tentang salatnya bagaimana; sebelas rekaat atau berapa. Itu kan bukan masalah yang serius!

    Bagaimana membuat Islam sebagai rahmat, bukan malah mendatangkan laknat?

    Agama akan jadi rahmat jika ia datang kepada manusia untuk kepentingan kemanusiaan. Tapi kalau untuk kepentingan manusianya sendiri, dan bukan untuk memenuhi kepentingan kemanusiaan, itu bukan agama namanya. Itu penggunaan agama yang salah.

    Contohnya, perlunya agama terlibat langsung dalam isu lingkungan hidup. Itu sangat jelas karena lingkungan hidup sangat dibutuhkan manusia untuk mengatur kehidupan.

    Isu itu merupakan kebaikan yang menyangkut langsung tentang kemaslahatan hidup. Makanya, di sini kita rumuskan dengan nama keyakinan. Kalau keyakinan itu untuk kemaslahatan semua, berarti itu agama. Tapi kalau tidak, ya namanya kepentingan kelompok. Jadi, harus dibedakan antara kepentingan agama secara umum dan kepentingan kelompok.

    Tentang partai-partai dan kelompok-kelompok sektarian, apa tanggapan Gus Dur?

    Ya, nggak apa-apa. Disebut atau tidak agamanya, sama saja. Yang penting, agendanya untuk kepentingan kemanusiaan secara umum. Yang menjadi pokok, untuk kepentingan siapa dia bekerja?

    Kalau untuk kepentingan kelompok yang bersangkutan, itu namanya bukan agama. Bagi saya, agama itu harus hadir untuk semua golongan.

    Di Alquran juga ada pengertian mengenai hal ini. Tanda-tanda atau bukti-bukti kehadiran Tuhan adalah jika yang bersangkutan mengharapkan kerelaan Tuhan, bukan untuk dirinya sendiri. Kalau begitu, ya bukan juga demi mengharap masuk surga. Tapi karena kerelaan. Kemudian untuk kebahagiaan akhirat nanti.

    Mengapa ada kelompok Islam yang ingin ajaran-ajaran spesifik Islam diatur dalam hukum negara, seperti kewajiban berjilbab dan lain-lain?

    Pemikiran seperti itu sebetulnya bersifat defensif. Artinya, mereka takut kalau Islam hilang dari muka bumi. Itu namanya defensif; pake takut-takutan. Sebenarnya, nggak perlu ada rasa ketakutan seperti itu.

    Mestinya, hanya urusan-urusan kemanusiaan yang perlu kita pegang. Adapun soal caranya, terserah masing-masing saja. Jadi, orang Islam nggak perlu takut (Islam lenyap, Red).

    Mengapa sering terjadi benturan klaim kebenaran antar agama-agama, bahkan dalam satu rumpun agama yang sama?
    Karena kita berani-beraninya mengambil alih jabatan Tuhan, fungsi Tuhan, kerajaan Tuhan. Emangnya kita siapa, kok berani-beraninya?! Nggak ada yang lebih tinggi daripada yang lain. Yang lebih tinggi dan lebih besar daripada segalanya hanya Tuhan. (M. Guntur Romli)

  6. #6
    Join Date
    Feb 2005
    Posts
    8,378
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    41

    Re: Intermezo - Renungan



    nice thread bung Ucup889

    menyegarkan mental dan pikiran

  7. #7
    Join Date
    Sep 2006
    Location
    ID, Indonesia
    Posts
    1,143
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    14

    Re: Intermezo - Renungan



    nice bro ucup....

    bikin inget sama yg Maha Kuasa...
    Visit My blog at Djagoan.wordpress.com

    <--- ini hanya mimpi....

  8. #8
    Join Date
    Mar 2005
    Location
    bandung aja..
    Posts
    1,837
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    20

    Re: Intermezo - Renungan



    Quote Originally Posted by ucup889 View Post
    Di Indonesia, cadangan maaf memang harus demikian besarnya karena jumlah pelanggaran dan kesalahan seperti jauh di atas jumlah maaf yang tersedia.
    kalo minta maaf saja cukup, buat apa ada polisi..
    (Tao Ming Se, Meteor Garden)

    btw, two thumbs up buat bro ucup..

    - a soft answer turneth away wrath, but grievous words stir up anger -

  9. #9
    Join Date
    Mar 2006
    Location
    menunggu Mu.....
    Posts
    4,374
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Rep Power
    33

    Re: Intermezo - Renungan



    Membaca Kemalangan


    Ini kisah tentang seorang petani tua yang bekerja di ladangnya.
    Suatu hari kudanya melarikan diri. Mendengar ini, tetangga si petani tua datang mengunjunginya, dan dengan penuh simpati berkata, "Oh, petani tua. Sungguh malang nasibmu."
    Sang petani pun menjawab, "Mungkin saja."

    Keesokan harinya, kuda itu kembali, bersama tiga kuda liar lainnya. "Sungguh menakjubkan. Betapa beruntungnya nasibmu," seru tetangganya.
    Sang petani menjawab, "Mungkin saja."

    Hari berikutnya, anak si petani tua mencoba menaiki salah satu kuda yang masih liar itu. Sang anak terlempar dari punggung kuda yang belum jinak itu. Kakinya patah.
    Mendengar ini, tetangganya datang mengunjunginya untuk memberi simpati atas kemalangannya,
    "Oh, petani tua. Betapa malang nasibmu."
    Lagi-lagi sang petani menjawab, "Mungkin saja."

    Keesokan harinya, seorang pejabat militer datang ke desa dan menyerukan kewajiban bagi setiap pemuda untuk berperang membela negara. Mengetahui bahwa kaki anak laki-lakinya patah, pejabat militer itu pun melewatinya. Para tetangga pun memberi selamat kepada si petani tua atas keberuntungan nasibnya.
    Sang petani tua pun menjawab, "Mungkin saja."

    Cerita yang menggugah bukan? Nasib baik dan buruk sebenarnya tergantung dari cara kita memandangnya.
    Sepanjang kita bersyukur, tidak pernah ada yang buruk yang datang dari-Nya.

    "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Quran [2]:216).

    (Kiriman dari Yarman Yazid melalui e-mail. Terimakasih kepada yang bersangkutan./)

  10. #10
    Join Date
    Jun 2006
    Location
    僕はここにいる
    Posts
    2,066
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    18

    Re: Intermezo - Renungan



    ^
    Nice story....


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts