renungan: Kekuatan yang Mengharukan
Welcome guest, is this your first visit? Create Account now to join.
  • Login:

Welcome to the CHIP Forum.

If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed.

+ Reply to Thread
Results 1 to 1 of 1

Thread: renungan: Kekuatan yang Mengharukan
  
Bookmark and Share

  1. #1
    Join Date
    Aug 2006
    Posts
    82
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    0

    renungan: Kekuatan yang Mengharukan



    Kekuatan yang Mengharukan


    ada sebuah cerita, seorang kakek membawa cucunya berwisata, mereka tersesat di sebuah hutan, kedua kakek dan cucu ini terpaksa makan buah-buahan hutan saat lapar dan minum air sungai, istirahat dengan bersandar pada pohon besar saat ngantuk. Setiap di saat seperti ini, sang kakek pasti akan memberi hormat dengan membungkukkan badan pada anak sungai dan pohon besar. Dan dengan penuh perasaan menghaturkan “terimakasih!” . Sang Cucu memperhatikan kakeknya dan dengan perasaan bingung bertanya : “kenapa sih kakek harus mengucapkan terimakasih pada mereka?”. Dengan penuh kasih kakek berkata : “nak, mereka layak kita syukuri, jika tidak ada mereka kita berdua sudah mati kelaparan sejak dulu, mereka adalah sang Budiman yang menyelamatkan kita dari petaka, kita bukan saja harus berterimakasih pada sungai dan pohon besar ini, kita juga harus berterimakasih pada setiap burung yang berkicau untuk kita, kepada setiap kuncup bunga yang menyemerbakkan aroma untuk kita, dan kepada setiap berkas sinar mentari yang menyayangi kita. Mereka semua pada membantu kita, dan kita pasti bisa keluar dari hutan ini.”


    Sebagaimana yang dikatakan kakek ini, akhirnya mereka berhasil menemukan jalan, dan keluar dari hutan itu. Kedua kakek dan cucu ini membalikka badan bersama dan dengan tulus mengucapkan “terimakasih” pada hutan yang telah memberi pengalaman yang sulit dilupakan.


    Usai membaca cerita ini tak tahan saya pun merenung, seandainya yang tersesat itu adalah saya, bagaimana saya akan bersikap? apa saya harus berkeluh kesah atau kasihan pada diri sendiri seperti dulu, tapi apa yang telah saya dapatkan dari keluhan dan simpati diri itu? ketika hasil matematika saya menurun, saya terus menggerutu guru tidak bisa mengajarnya dengan baik, simpati pada diri sendri tidak sekolah di SMP yang bonafid, ketika terjadi kesalah-pahaman dengan sahabat karib, saya selalu mengeluhkan teman saya itu tidak tahu diri, simpati pada diri sendiri mengapa menjadikan orang ini sebagai sahabat. Namun akhirnya, hasil matematika saya semakin merosot, dan sahabat karib meninggalkan saya. Jika dibandingkan, sikap kakek dalam cerita di atas begitu arif dan bijaksana.


    Perasaan syukur terhadap hal ihwal telah mengubahnya menjadi dorongan untuk maju, setiap saat ia selalu merasa dirinya sangat beruntung, adalah orang yang di perhatikan. Kekuatan rasa syukur sungguh luar biasa! dan dalam lubuk hati saya yang paling dalam saya haturkan sepatah “terimakasih” yang dalam terhadap penulis cerita di atas, sebab cerita ini telah memberi inspirasi yang dalam bagi saya.


    Selama meninggalkan rumah dan tinggal di Beijing, saya semakin menyadari betapa kuatnya rasa syukur dalam hati. 3 tahun silam, saya berangkat ke Beijing, awal setibanya di sana, segalanya tampak begitu asing, seorang diri dan kesepian begitu kuatnya menyergap saya, kerinduan akan rumah terus berkecamuk dalam dada, kegelisahan akan masa depan yang belum pasti membuat saya sulit memejamkan mata sepanjang malam, ditambah lagi dengan cuaca kota Beijing yang panas, saya yang baru pertama kali meninggalkan rumah ternyata terlalu lemah sehingga jatuh sakit, terbayang kalau sehari-hari di rumah ada orang tua yang menyayangi, tapi kini seorang diri di Beijing, betapa susahnya, betapa takutnya sampai air mata berlinang membasahi muka.


    Tiba-tiba, saya merasakan satu tangan merentang di dahi saya, sebuah suara dengan takut-takut bertanya : “Apa kamu sakit? saya belikan obat ya!” ternyata yang berkata itu adalah seorang teman se-asrama yang belum sempat diketahui namanya. Melihat itu, rekan-rekan lain kemudian berdatangan, ada yang membantu mengambilkan air, ada yang mengambilkan nasi, dan seketika, saya menjadi akrab dengan ke-6 gadis dari seluruh pelosok negeri itu. Yang paling menggugah saya adalah teman saya yang tidur di atas, karena ayahnya seorang dokter, jadi dia bisa mengerik, hati saya sekilas tergugah setiap alat pengerik itu mengerik di badan. Dan sepanjang malam itu ia tidak bisa tidur dengan tenang, sesekali ia meraba-raba dahi saya, mengecek apakah demam. Hatiku terasa hangat, begitu banyak yang memperhatikan aku, dan aku sungguh sangat beruntung. Terlintas dalam benak saya, jika suatu hari nanti ada yang sakit sepertiku, maka aku pasti juga akan berbuat demikian. Di bawah perhatian dan perawatan teman-teman yang cermat, akhirya saya sembuh dengan cepat.


    Sejak itu, tidak peduli siapapun yang mengalami kesulitan dalam asrama, semua orang pasti akan membantu dengan tulus dan sepenuh hati. Hingga sekarang, kami ber-enam tetap bersahabat karib, kami selalu saling menghubungi dan berbagi bersama kalau ada hal-hal yang menggembirakan, demikian juga dengan sebaliknya.


    Sesungguhnya, kita semua dengan serta merta telah tenggelam ke dalam lautan karunia sejak adanya kehidupan. Seorang nyonya sukses yang dicintai dan dihormati demikian mengatakan : “saya kerap merindukan orang-orang yang pernah memberi semangat atau pujian itu dengan rasa syukur, mereka banyak dan banyak memberi (dorongan, dukungan, nasehat atau sejenisnya), sehingga bermanfaat buat saya selamanya. Saya paham betul, karena cinta kasih itulah, mereka baru bisa memberi semangat, keyakinan dan dukungan pada saya. Dan juga karena saya menyayangi mereka, dan agar tidak mengecewakan mereka, maka dalam perjalanan hidup saya, saya baru mendesak, menyemangati, menjadi orang dan melakukan hal-hal yang baik pada diri sendiri, tidak takut gagal, maju terus dengan penuh semangat. Semua dorongan ini berasal dari cinta kasih semua orang terhadap saya.”


    Pembaca yang budiman, marilah kita melangkah dengan penuh rasa syukur! resapi rasa haru itu dalam-dalam, perasaan ini mungkin dari orang tua (Ayah-ibu), teman, atau mungkin dari sekitar kita, dari tempat yang jauh, atau bahkan mungkin dari orang yang tak kita kenal. Perasaan haru adalah cahaya kehidupan yang hangat, embun manis yang membasahi sanubari, adalah pelita dalam beranda kehidupan dan seruan kekuatan yang menyadarkan kita dari tidur panjang, marilah kita hadapi kegagalan itu dan memenanginya, menghadapi kebahagiaan serta tahu menghargai.


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts