Pemrograman yang hanya pemrograman - Page 3
Welcome guest, is this your first visit? Create Account now to join.
  • Login:

Welcome to the CHIP Forum.

If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed.

+ Reply to Thread
Page 3 of 3 FirstFirst 1 2 3
Results 21 to 25 of 25

Thread: Pemrograman yang hanya pemrograman
  
Bookmark and Share

  1. #21
    Join Date
    Mar 2007
    Posts
    14
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Rep Power
    0

    <lanjutan...>



    Teknik yang memecah-belah kompleksitas menjadi sub-bagian yang bisa dihandle oleh otak manusia,adalah teknik umum yang digunakan di berbagai bidang apapun. Yang karena nya saya sebut saja sebagai localization. Lhoooww??? Kok bukan object-oriented??? Object oriented memang mempunyai fitur yang lebih banyak dibandingkan hal yang lain, sehingga by-default object oriented menjadi lebih popular. Tetapi perlu diingat bahwa object oriented ada karena kebutuhan melakukan localization. Sehingga tanpa memahami localization terlebih dahulu, tentu tidak akan dapat menerapkan object oriented dengan maksimal.

    Encapsulation, inheritance, dan polymorphism, merupakan pengembangan dari teknik-teknik pemrograman yang sudah dimulai sejak ilmu programming tercipta, yang disempurnakan dengan bahasa tingkat tinggi, disempurnakan dengan prosedural, hingga yang sekarang disebut object oriented, tetapi dasar konsep nya tidak pernah berubah yaitu untuk menerapkan localization. Sayang dengan semakin banyaknya teknik, kita cenderung melupakan esensi “why” teknik tersebut diciptakan, sehingga pengaplikasian nya menjadi salah dan benefit nya menjadi hilang.

    Localization guidance

    Dari mengamati impact penerapan OOP yang betul berdasarkan technical justification, ternyata sebagian besar teknik OOP, termasuk tool-tool yang ada, berujung kepada salah satu dari empat bentuk code berikut. Keempat bentuk code berikut inilah yang disebut sebagai Localization guidance. Mereka adalah sebagai berikut:

    L1 : Localize kompleksitas

    Jika kita mempunyai code dengan jumlah 1000 baris code tentu sangatlah kompleks. Bayangkan jika kita pecah menjadi 10 bagian, dengan masing-masing bagian berisi 100 baris code, dan setiap 100 baris code tersebut kita pecah lagi menjadi 10 bagian, sehingga masing-masing berisi 10 baris code. Dengan demikian akan menjadi sangat simple, karena dalam satu waktu kita hanya perlu memfokuskan otak kita hanya terhadap 10 baris code. Ini bentuk localization pertama, dimana otak di-localize atau di-fokuskan hanya untuk 10 baris code.

    Technical justification : dari 1000 baris code diubah menjadi 10 baris of code, berarti 100 kali lebih sederhana. Ini jelas something very very significant.

    L2 : Yang saling terkait dilocalize menjadi satu

    Pemecahan di atas tentu saja bukan sembarang pemecahan. Memecahkan sebuah hal yang saling terkait justru menambah pekerjaan yang tidak perlu. Bagaimana pun tujuan pemecahan adalah supaya menjadi lebih sederhana, tentu saja pemecahan tersebut harus menghasilkan sebuah bentuk yang betul-betul independen. Jika nilai variabel A tergantung variabel B, dan variabel A ditempatkan di tempat yang terpisah dengan B, maka itu hanya bentuk lain dari peningkatan kompleksitas, yang berlawanan dengan konsep L1. Kenapa? Karena pada saat kita memanipulasi variabel B, kita harus mengetahui ada variabel A, yang tempat nya entah berada dimana, yang juga harus diperhatikan. Jelas ini adalah sebuah kompleksitas yang di luar jangkauan otak kita.

    Technical justification : jika variabel A dan B misalnya berada dalam satu class, opportunity kita untuk mengenali bahwa A tergantung B akan jauh lebih besar, dibandingkan jika variabel A ditempatkan di file code yang berbeda. Karena jika sebuah aplikasi mempunyai 1000 file, maka kita harus memahami seluruh code yang berada 1000 file tersebut, dibandingkan jika harus memahami satu class saja. Jelas dalam kasus ini kompleksitas nya adalah paling sedikit 1 berbanding 1000.

    L3 : Yang berpola sama dilocalize menjadi satu

    Ini nama lain nya adalah membuang semua redudancy. Jika Anda memiliki urutan algoritma yang selalu sama seperti setiap kali call fungsi A dilanjutkan dengan call fungsi B, fungsi A dan B harus digabungkan menjadi fungsi C dimana di dalam nya berisi call terhadap fungsi A yang dilanjutkan dengan call fungsi B. Kita memang dengan gampang menciptakan sebuah fungsi umum yang sering digunakan oleh di banyak bagian dari aplikasi. Misalnya fungsi seperti DisplayText secara natural gampang diindentifikasi akan digunakan oleh banyak bagian dari aplikasi. Tetapi yang selalu miss adalah opportunity untuk mengidentifikasi urutan redudancy call seperti case fungsi A dan B di atas, yang pada awalnya terlihat seperti random.

    Technical justification : fungsi C tidak akan pernah lupa bahwa setiap call fungsi A akan dilanjutkan dengan call terhadap fungsi B, tetapi manusia normal pasti akan mempunyai kemungkinan lupa untuk call fungsi B. Jelas bedanya : yang pertama chance nya 0%, yang sebaliknya chance nya selalu lebih besar dari 0%.

    L4 : Jangan un-localize sesuatu lebih dari yang diperlukan

    Jika kita mempunyai variabel A yang tergantung dengan variabel B, seperti misalnya A = B + 3. Maka variabel A hanya bisa dipublish sebagai read only variable. Ini menjamin variable-variable yang sudah kita kumpulkan jadi satu dengan teknik L2 di atas, tidak diutak-atik oleh bagian program yang lain. Dengan otak yang terbatas kita tidak mungkin setiap kali ingat bahwa sebuah variable tidak boleh diakses sembarangan. Hmm, seperti halnya “lokalisasi” yang baik untuk merapihkan W/PTS supaya tidak merusak masyarakat, ternyata baik juga untuk merapihkan code-code yang tuna-susila.

    Technical justification : jika suatu hari variabel A berisi angka yang salah, kita bisa dengan yakin bahwa bug pasti hanya terjadi di scope pemilik dari A, misalnya class yang berisi variabel A tersebut. Dibandingkan jika harus keliling mencari code misalnya di seluruh 3000 file yang merupakan bagian dari aplikasi lengkap.

    Apa bedanya???

    Ah kalau sekadar aturan-aturan seperti di atas, apa bedanya teknik-teknik localization tersebut dengan teknik-teknik yang biasa dijumpai di buku-buku object oriented?? Beda banget. Penekanan dari semua teknik localization di atas adalah langsung applicable untuk dilatih di level setiap baris code.

    Perhatikan semuanya berisi aturan terang benderang tentang apa yang harus dilakukan untuk setiap case, exactly step by step, di level setiap baris code. Bandingkan misalnya dengan konsep encapsulation dengan teknik L3. Encapsulation mengajarkan bahwa kita harus menemukan kesamaan di problem / modeling / solution domain untuk kemudian diencapsulate. Perhatikan encapsulation tidak mensuggest coding dimulai dari code tetapi dari high level point of view yang begitu abstrak (problem / modeling / solution). Bagaimana membandingkan abstraction yang satu lebih baik daripada abstraction yang lain. Dengan membandingkan code nya baris demi baris. Bagaimana membandingkan nya supaya kita tidak salah pilih? Supaya tidak terjebak di dalam debat kusir?? Dengan teknik L3 tersebut yang mempunyai technical justification jelas.

    Hanya programmer yang memang sudah terlatih, dan terlatih dengan cara yang valid, yang mempunyai probabilitas lebih besar untuk menebak abstraction yang tepat. Dan bahkan programmer yang paling terbaik pun, paling banter hanya mampu menebak 10% dari konsep abstraction yang akhirnya terbukti paling tepat, yaitu abstraction final yang digunakan pada saat aplikasi selesai didevelop. Jadi encapsulation adalah pendekatan top-down, sedangkan localization adalah pendekatan bottom-up, yang memang pada akhirnya akan bermuara ke encapsulation.

    Jika bahkan programmer terbaikpun hanya sanggup menebak dengan ketepatan 10%, mengapa buang waktu dengan mencari-cari encapsulation / abstraction terlalu dini?? Apalagi di saat kita baru mulai berlatih. Dengan localization, teknik langsung diapply di level code by code. Bottom-up sehingga abstraction dan encapsulation secara natural terbentuk dengan solid. Simple. Jelas. Sehingga programmer pemulapun sudah bisa langsung menerapkan teknik localization di first code yang ditulisnya dengan akurasi yang sangat tinggi.

    Inilah kenapa localization saya sebut merupakan esensi dari object oriented.

    Selanjutnya saya akan memperlihatkan bahwa object oriented hanya merupakan teknik untuk menerapkan salah satu teknik localization di atas.

    Object oriented hanyalah penerapan dari localization

    Saya tidak akan membahas satu per-satu teknik object oriented karena sudah ada ratusan ribu buku yang membahas ini. Saya hanya menunjukkan satu teknik inheritance untuk menunjukkan korelasinya terhadap teknik localization. Jika Anda sudah mahir dengan localization, Anda dijamin akan dapat menemukan korelasi-korelasi yang lain sendiri.

    Re-usable adalah kata yang selalu didengung-dengungkan oleh developer OOP. Sayangnya saya belum pernah menemukan satu developer-pun yang bisa menunjukkan ini dengan baik. Contoh yang selalu digunakan untuk menunjukkan re-usable adalah ke-tiga-pilar-omong-kosong itu.

    Re-usable itu sudah ada, bahkan di bahasa assembly yang paling primitif-pun sudah ada. Kalau Anda punya fungsi, dan fungsi itu bisa digunakan oleh seluruh bagian dari code, ini adalah re-usable. Perkara fungsi itu letaknya ada di class, module, manifest yang berbeda (beda exe), dll, selama fungsi itu bisa kita akses, namanya adalah re-usable. Ok.

    Jadi apa yang ditambahkan oleh OOP ke masalah re-usable ini? Inilah sifat khusus dari inherintance, baik implementation inheritance maupun interface inheritance, yang bermanfaat untuk meningkatkan re-usable dari code. Re-usable yang sudah sejak dulu tersedia adalah “calling re-usable”, yaitu banyak code memanggil sebuah code. Jika Anda mempunyai sebuah fungsi “CalculateBonus”, dan fungsi ini dipanggil dari modul Sales Order dan Delivery Order, ini adalah “calling re-usable”. Yang belum tersedia secara explisit di bahasa-bahasa non-OOP adalah “callback re-usable” (kecuali menggunakan pointer, tetapi pointer berpotensi menimbulkan masalah lain yang lebih serius). Jika Anda membuat aplikasi seperti Trilian Messenger, yaitu sebuah program chatting yang mempunyai fitur untuk chat dengan berbagai messenger lain seperti Yahoo! Messenger, MSN Messenger, Google Messenger, ICQ, dll, akan lebih convenience jika Anda menyediakan satu macam user interface untuk chatting yang bisa bekerja dengan semua messenger tersebut. Atau seperti Windows yang bisa mengakses berbagai macam hardware. Inilah problem yang solusi paling baiknya adalah menggunakan “callback re-usable’.

    Keliatannya bedanya? Untuk “callback re-usable”, code pemanggilnya yang digunakan bersama-sama (untuk kasus “calling re-usable”, code yang dipanggil yang digunakan bersama-sama).

    Apa hubungan nya dengan localization? Jelas ini adalah penerapan dari teknik L3 : Yang berpola sama dilocalize menjadi satu. Pola yang sama bisa terjadi di mana saja, caller dan callee. Begitu kita punya intention untuk menggabungkan pola yang sama ini, bahkan tanpa OOP pun kita akan menggunakan pointer. Jika languange nya tidak support pointer, kita akan menggunakan teknik array of function code. Jika array of function code tidak disupport, kita akan menggunakan teknik GOTO (GOTO??? YES GOTO!!!). Kebetulan OOP punya syntax inheritance yang lebih nyaman dari goto, teknik array of function code, maupun pointer. Thus kita pakailah itu OOP punya teknik.

    Tanpa pemahaman terhadap teknik L3 yang sangat sederhana itu, well saya sering sekali melihat code yang sangat menggelikan. Semua class diturunkan dari satu base class. Atau setiap class selalu mengimplementasikan sebuah interface yang hampir sama ( ngapain repot-repot Booosss??? Buang aja tuh interface ).

    Reflex

    Karena OOP merupakan kumpulan teknik untuk menerapkan localization, yaitu membagi-bagi masalah menjadi seukuran yang bisa dihandle oleh otak kita, secara natural jika kita melakukan pengamatan terhadap semua syntax OOP, ini tidak lain adalah diciptakan untuk membantu pengaplikasian localization. Oleh karena itu, sebelum kita berlatih OOP secara khusus, kita harus berlatih localization yang merupakan bentuk yang paling esensi dari pengaplikasian OOP. Karena untuk berlatih kita harus dimulai dari pondasi yang paling dasar. Pondasi paling dasar ini dimulai dengan mengenali beberapa teknik localization, yang kemudian untuk dilatih sehingga timbul daya reflex kita mengenali pola-pola coding yang terbentuk, dan menerapkan teknik localization.

    Hanya jika kita bisa menjustifikasi sebuah coding style TIDAK berdasarkan preferensi, barulah kita bisa membangun skill OOP kita. Kenapa begitu? Skill hanya bisa dibangun dengan dilatih. Melatih hal yang salah, hanya membuat kesalahan kita menjadi perfect. Preferensi tidak memberikan guidance mana yang salah dan benar. Sebaliknya technical justification yang gamblang dan terang benderang, dan dalam banyak case dinyatakan dalam angka yang terang benderang, akan sangat jauh jauh lebih menjamin bahwa kita tidak berlatih hal yang salah.

    Errhh... berlatih?? Ya seharusnya jelas bukan bahwa skill harus dilatih. Akan tetapi yang terjadi di dunia programming (dan untung nya juga terjadi di dunia martial art), adalah justru sebaliknya. Orang cenderung mengumpulkan teknik, bukan melatih teknik tersebut.

    Berbeda dengan pandangan kebanyakan pandangan programmer yang kurang berpengalaman, atau para teoritis / pengamat pemrograman yang hanya pernah juggling beberapa baris code untuk contoh artikel, tetapi tidak pernah berlatih pemrograman secara real, selalu beranggapan bahwa programming bisa dikonseptualkan sejak awal. Well konseptor yang paling berpengalaman di dunia pun paling banter hanya sanggup mencapai 10% dari design aplikasi. Sisanya baru bisa ditemukan pada saat programming dilakukan. Tanpa pernah berlatih, kita tidak akan mempunyai kepekaan terhadap pola-pola code yang dihasilkan, yang sepintas lalu hanya seperti random, sehingga miss opportunity untuk menerapkan konsep yang bagus. Bahkan konsep yang paling sederhana / esensi seperti Localization pun bisa luput dari pandangan (apalagi konsep turunan dari localization yang lebih kompleks seperti object oriented). Karena itu tidak ada cara untuk meningkatkan skill programming adalah dengan mengenali banyak, sebanyak-banyaknya aplikasi dari sebuah teknis, dan terus berlatih seperti itu, sampai mempunyai kepekaan terhadap pola-pola yang ditemukan pada saat programming. Berlatih sampai daya reflex nya terbentuk.

    Karena itu pula saya sangat against kebiasaan yang memberikan contoh pengaplikasian dengan konsep abstrak yang lain. Ini hanya membuat orang tenggelam dalam lautan teknik dan kehilangan awareness terhadap esensi dari teknik. Contoh aplikasi haruslah dalam bentuk seperti persamaan matematika, yang dalam kasus ini harus dengan gampang ditunjukkan dengan code secara gamblang, yang kemudian bisa dihitung 1-2-3 dengan mudah... that is contoh yang memenuhi kriteria technical justification.

    Bagaimana berlatih / menerapkan Localization

    Langkap pertama adalah JUSTRU kita tidak perlu (tidak boleh) terlalu memikirkan terlalu dini mengenai encaps, inherit, poly, etc2 konsep OOP yg lebih abstract, tetapi fokus saja terlebih dahulu kepada struktur code yg real. Caranya gampang, yaitu fokus aja ke aplikasi yang sedang kita buat sesuai dengan apa yang natural menurut kita, tidak perlu dipikirkan struktur nya sudah baik atau belum, tidak perlu memikirkan apapun, just code exactly seperti yang kita pikir ( btw lebih fun bukan? ).

    Setelah code sudah terbentuk sebagian, tidak perlu terlalu banyak code, misalnya sudah dibuat sekitar 10 fungsi, reviewlah berdasarkan Localization guidance. Apakah ada dari code kita yang kurang sesuai, rubah code nya supaya sesuai dengan Localization guidance. Caranya bagaimana? Sesuai dengan teknik2 yang available di language masing-masing yang kita gunakan.

    Nanti secara natural, akan terlihat bagaiman teknik2 encaps, inherit, poly, etc, diaplikasikan untuk mencapai bentuk yg disuggest oleh Localization tsb. Biasakan terus seperti itu sampai itu menjadi reflex. Menjadi reflex artinya pada waktu construct code hasilnya sudah langsung semakin mendekati struktur code seperti yg diguide oleh Localization.

    Yang agak susah di awal adalah melihat bentuk2 mana yang perlu di-“Localization”-kan. Ini yang biasanya butuh mentor atau buku. ( Sayang nya buku nya belum tersedia ada )

    Dengan cara di atas, “why” nya menjadi jelas. Yaitu “why” menggunakan syntax2 encaps, inherit, poly, dan syntax2 yang lain? Yaitu untuk mencapai bentuk Localization. “why” perlu bentuk Localization? Karena technical justification yang disebutkan di setiap teknik Localization tsb.


    Penutup

    Penjelasan teknik-teknik localization di atas begitu sederhana, sehingga kita merasa ah begitu gitu saja. Tetapi coba Anda buka code Anda sendiri, analyze dengan teknik2 localization di atas, dan Anda akan surprise, karena tanpa awareness yang dilatih terus menerus, akan ditemukan sekali banyak sekali code-code yang bertentangan dengan teknik localization yang terang benderang tersebut. Pengalaman code review yang saya lakukan menunjukkan hal ini. Bahkan saya hampir tidak melihat bedanya code yang dibuat oleh programmer yang sudah berpengalaman 10 tahun dan code yang dibuat oleh programmer yang baru hanya mempunyai pengalaman beberapa bulan. Sedih memang – tetapi itulah fakta lapangan. Di sinilah sekali lagi menunjukkan bahwa kemampuan programming hanya bisa didapat melalui latihan. Lebih baik mempunyai satu teknik / satu jurus, daripada memahami ratusan teknik / jurus – seperti para pengamat programming – tetapi tidak ada satupun yang menjadi daya reflex nya.

    Jangan sampai kita terjebak menjadi pengamat programming, yang bahkan dirinya sendiri tidak sadar bahwa dirinya hanya pengamat. Merasa dirinya pakar – selalu memperkenalkan teknik-teknik baru yang membuat programmer lain merasa minder karena “kok rasanya tidak make sense”, tetapi karena para “pakar” tersebut mempunyai kemampuan pencitraan diri yang baik, sehingga justru programmer lain tersebut yang merasa dirinya pandir. Programmer pengamat yang membuat programmer berbakat justru merasa pandir. Ini adalah sebuah cacat yang saya sebut sebagai “NORMAK SYNDROME”. Jangan sampai ketularan!

    NB : by the way bagaimana menghindari terjebak ke dalam arus Normak Syndrome tersebut? Untungnya gampang, tanyakan saja sudah berapa lama programming, dan sudah pernah membuat code berapa ratus ribu baris. Jika significant, than you listen to him/her. Remember : you won’t be a fighter by just reading and talking. Just code it, and show your code blatlantly.


    Happy programming!
    Last edited by nelvin; 19-01-2012 at 12:49.

  2. The Following User Says Thank You to nelvin For This Useful Post:

    mickwijaya (30-12-2011)

  3. #22
    Join Date
    May 2005
    Posts
    2,346
    Thanks
    78
    Thanked 11 Times in 10 Posts
    Rep Power
    26

    Re: <lanjutan...>



    wah...dah ampir 4 taon dilanjut lagi thread nya...g ampe lupa pernah baca ini ...tp emang bahasan nya bagus sih.

    jujur g kuliah IT..meski lulus IPK lmyn...tp soal OOP ini kgk pernah ngerti implementasi nya kyk apa..di kuliah cm diajarin class kendaraan..diturunin jadi class Mobil & class Truk...cape deh.

    seharusnya diajarin nya dengan contoh kasus kyk yg dibahas disini. baru pas kerja & koding aplikasi agak besar...baru deh kerasa harus implementasi dmana nya..meski itupun blm tentu bener.

    btw...thread di tetangga : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11760542
    pembahasan nya mirip & lebih hot (mgk programmer yg nongkrong di kaskus lbh banyak dari di chip).. dari kedua thread ini bs banyak blajar.

    klo yg dimaksud dengan Interface itu apa ya?msh blm mudeng
    worklog-1 : Casing AT to ATX
    worklog-2 : Simbadda Watercooled Reversed ATX
    guide-1 : Universal IR Remote Receiver

    "back in the day" the fun of overclocking was taking mid-low range hardware to the speeds of the top end hardware and beyond. Not spending as much as possible initially to take the top end hardware a bit further.

  4. #23
    Join Date
    Jan 2005
    Posts
    908
    Thanks
    0
    Thanked 9 Times in 8 Posts
    Rep Power
    21

    Re: Pemrograman yang hanya pemrograman



    pembahasan di sini dan di kaskus saling melengkapi.
    thx to brought " this thing " up again @micky very helpfull.
    dan seharusnya kita di sini juga lebih banyak membahas selayak ini daripada membahas begitu banyak coding, yg bahkan yang bertanya pun masih belum paham dari apa yang ditanyakan sebenarnya, dan yang menjawab hanya sekedar menjawab dari apa yang ditanyakan ( that's not healthy tho .. and boring !! )

    mengenai pendekatan bottom-up akan membentuk code secara alami lebih akurat dan tepat guna seperti @nelvin bahas di atas,,memang seperti itu seharusnya. Memang dengan cara seperti itu control thd code akan lebih kuat terhadap pencapaian hasil akhir dari development. Keterbiasaan dgn maksud untuk menulis code dengan cepat sebagai sebuah solusi, justru menutupi pikiran dari gambaran besar yang seharusnya dibangun dengan detil. Dan memang, untuk implementasi selayak yang @nelvin bahas akan memerlukan waktu yang cukup panjang tergantung besarnya framework yang akan dikembangkan,,namun kesudahannya akan sangat membantu diri sendiri.

    Hmm,,mengenai localization sebagai esensi dari OOP ? Iya, saya setuju
    " A man's felicity consists not in the outward and visible blessing of fortune, but in the inward and unseen perfections and riches of the mind "

    thomas carlyle

    where i used to go when surfing :
    site1 site2 site3 ...


  5. #24
    Join Date
    Mar 2007
    Posts
    14
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Rep Power
    0

    Re: <lanjutan...>



    Quote Originally Posted by mickwijaya View Post
    wah...dah ampir 4 taon dilanjut lagi thread nya...g ampe lupa pernah baca ini ...tp emang bahasan nya bagus sih.

    jujur g kuliah IT..meski lulus IPK lmyn...tp soal OOP ini kgk pernah ngerti implementasi nya kyk apa..di kuliah cm diajarin class kendaraan..diturunin jadi class Mobil & class Truk...cape deh.

    seharusnya diajarin nya dengan contoh kasus kyk yg dibahas disini. baru pas kerja & koding aplikasi agak besar...baru deh kerasa harus implementasi dmana nya..meski itupun blm tentu bener.
    Yg paling fun dan paling bener, itu langsung tancap coding aja Bro. Ide apa yg ada di pikiran langsung kerjain aja. Gak usah pusing sama konsep2 ini itu dulu. Langsung tancep. Nah nanti pasti ketemu problem, cari solusinya, dan cari cara gimana supaya problem seperti ini tidak terjadi lagi. Bisa mikir sendiri, bisa juga tanya. Dari sini baru langsung progress kemampuan coding nya.

    Quote Originally Posted by mickwijaya View Post
    btw...thread di tetangga : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11760542
    pembahasan nya mirip & lebih hot (mgk programmer yg nongkrong di kaskus lbh banyak dari di chip).. dari kedua thread ini bs banyak blajar.
    Thread ini ngawur. Ini tipikal orang yg waktu coding terlalu banyak aturan sendiri - dan lupa esensi coding. Normak Syndrome ini namanya. Coding should be fun.

  6. #25
    Join Date
    Mar 2007
    Posts
    14
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Rep Power
    0

    Re: Pemrograman yang hanya pemrograman



    Quote Originally Posted by positive+ View Post
    mengenai pendekatan bottom-up akan membentuk code secara alami lebih akurat dan tepat guna seperti @nelvin bahas di atas,,memang seperti itu seharusnya. Memang dengan cara seperti itu control thd code akan lebih kuat terhadap pencapaian hasil akhir dari development. Keterbiasaan dgn maksud untuk menulis code dengan cepat sebagai sebuah solusi, justru menutupi pikiran dari gambaran besar yang seharusnya dibangun dengan detil. Dan memang, untuk implementasi selayak yang @nelvin bahas akan memerlukan waktu yang cukup panjang tergantung besarnya framework yang akan dikembangkan,,namun kesudahannya akan sangat membantu diri sendiri.
    bottom-up ini diperlukan utk membentuk intuisi kita, intuisi yang sesuai dengan akal sehat tentunya. ini yang membedakan dengan top-down yang sering memberikan ilusi salah - terutama utk yang belum berpengalaman. pada saat kita aktual coding, tidak ada batasan, baru bottom-up, top-down, campur, whatever, lets do semua yg paling cocok, gak ada aturan yg baku utk ini. dan memang jangan kebanyakan aturan, karena coding supposed to be very fun.

    Quote Originally Posted by positive+ View Post
    Hmm,,mengenai localization sebagai esensi dari OOP ? Iya, saya setuju
    sip.


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts