Belajar Linux: Tingkat Menengah – Administrasi Sistem - Page 2
Welcome guest, is this your first visit? Create Account now to join.
  • Login:

Welcome to the CHIP Forum.

If this is your first visit, be sure to check out the FAQ by clicking the link above. You may have to register before you can post: click the register link above to proceed.

+ Reply to Thread
Page 2 of 16 FirstFirst 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 LastLast
Results 11 to 20 of 151

Thread: Belajar Linux: Tingkat Menengah – Administrasi Sistem
  
Bookmark and Share

  1. #11
    Join Date
    Jul 2004
    Location
    Tangerang
    Posts
    2,848
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    24

    Lightbulb [Belajar Linux: Administrasi Sistem] Akses Folder Sharing Windows



    Akses Folder Sharing Windows

    Untuk yang ingin mengetahui dasar-dasar mounting, silakan lihat di sini

    Linux dapat juga mengakses folder yang disharing di Windows. Syaratnya adalah paket smb-client telah terinstall. Untuk mengaksesnya, Kita akan menggunakan perintah mounting. Ya benar, memang mounting yang sama yang kita gunakan untuk mengakses device storage. Berikut langkah-langkahnya:
    1. Memastikan smb-client telah terinstall. Perintahnya
      # smbclient -L NamaKomputer

      NB: Jika NamaKomputer tidak bisa, gunakan alamat IP komputer tersebut
    2. Jika perintah di atas ternyata meminta Kita memasukan password, artinya Kita harus memasukan user name dalam perintah smbclient tersebut. Maka perintahya menjadi:
      $ smbclient -L NamaKomputer -U NamaUser
      Ketika diminta password, masukkan password yang sesuai dengan NamaUser yang Kita masukkan tadi. Untuk menghindari masalah, jangan menggunakan NamaUser yang mengandung spasi, jika terpaksa menggunakan NamaUser yang mengandung spasi, gunakan tanda “ (petik) untuk nama user.

      Bila muncul tampilan seperti di bawah ini, berarti smbclient telah berjalan:
      Domain=[WORKGROUP] OS=[Windows 5.0] Server=[Windows 2000 LAN Manager]

      Sharename Type Comment
      ------------- ------ -------
      IPC$ IPC Remote-IPC
      dokumen Disk Sharing Dokumen
      ADMIN$ Disk Remoteadmin
      C$ Disk Standard share

      Server Comment
      --------- -------
      WINSERVER

      Workgroup Master
      --------- -------
      WORKGROUP WINMACHINE
    3. Langkah selanjutnya adalah membuat folder untuk mounting-nya. Perintahnya
      # mkdir /mnt/windows_dokumen
    4. Sekarang, barulah kita melakukan mounting.
      # mount -t smbfs //winshare/dokumen /mnt/windows_dokumen

      bila membutuhkan username dan password:
      # mount -t smbfs -o username=NamaUser,password=PasswordUser //winshare/dokumen /mnt/windows_dokumen
    5. Untuk Windows 2003, seringkali gagal melakukan mounting, karena adanya service yang menghalagi tipe file smbfs untuk mengaksesnya. Untuk itu, Anda dapat mengganti tipe file smbfs dengan cifs. Contoh
      # mount -t cifs -o username=NamaUser,password=PasswordUser //winshare/dokumen /mnt/windows_dokumen
    Last edited by Sirius Black; 27-06-2007 at 05:17. Reason: Update link untuk dasar-dasar mounting

  2. #12
    Join Date
    Jul 2004
    Location
    Tangerang
    Posts
    2,848
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    24

    [Belajar Linux: Administrasi Sistem] Mounting Otomatis dengan FSTAB



    Mounting Otomatis dengan FSTAB


    Cara mounting di atas, dan mounting yang saya berikan di thread sebelumnya bersifat sementara, artinya ketika komputer di restart, maka kita harus melakukan mounting ulang. Sebenarnya mounting ini dapat dibuat permanen. Caranya, simpan di file /etc/fstab.


    Jika dilihat, file FSTAB ini terbagi menjadi 6 kolom. Berikut contoh dari fstab:
    # cat /etc/fstab
    /dev/hda1 / ext3 defaults 1 1
    /dev/hda2 swap swap defaults 0 0
    Keterangan 6 kolom tersebut adalah:
    1. Kolom device, yaitu kolom yang berisi storage device atau folder sharing.
    2. Kolom mount point, yaitu dimana device tersebut akan di mounting.
    3. Kolom file tipe, yaitu tipe file apa yang akan dimounting, misalnya ext3, swap, vfat, ntfs, dsb.
    4. Kolom pilihan, yaitu berisi pilihan apa saja saat akan dilakukan mounting. Misalnya, apakah akan dimounting read-only (ro), read-write (rw), dsb.
    5. Kolom dumping, yaitu berguna untuk menentukan file sistem yang akan di dump oleh perintah dump. Perintah dump ini berguna untuk menentukan apakah akan dibackup atau tidak. Angka yang dapat diisi adalah:
      0 = file system tidak akan di backup (melalui perintah dump).
      1 = file system akan dibackup.
      2 = akan dibackup hari berikutnya.

      NB: Untuk Linux ddengan kernel di atas 2.2, parameter ini tidak digunakan, jadi hanya sebagai kompabilitas saja
    6. Kolom check, kolom ini berguna untuk menentukan apakah file sistem akan di-cek saat sistem reboot. Perintah ini mirip dengan Scandisk di Windows saat komputer tidak dimatikan dengan benar. Angka yang dapat diisi adalah:
      0 = Tidak diperiksa
      1 = Periksa untuk partisi root
      2 = Periksa untuk partisi selain root.

      Pastikan untuk device yang berupa folder sharing, CDROM, dan sebagainya yang bukan merupakan HDD Kita (atau yang dimounting dengan read only) isikan dengan 0. Karena tidak ada gunanya kita memeriksa semua device tersebut.
    Sekarang kita akan coba untuk memasukan perintah mounting folder sharing windows dalam postingan sebelumnya ke dalam file fstab ini, tambahkan baris ini ke dalam fstab (dalam 1 baris)
    //winshare/dokumen /mnt/windows_dokumen cifs defaults,username=NamaUser,password=PasswordUser 0 0
    Dengan demikian, setiap kali komputer restart, maka folder sharing windows tersebut akan dimounting secara otomatis. Tetapi ternyata masalah belum selesai sampai di sini. Kenapa? Seperti Anda lihat, bahwa password-nya disimpan dalam file fstab itu sendiri dan ini jelas sekali tidak aman.

    Cara yang aman adalah, Anda harus membuat 1 buah file yang berisi username dan password tersebut. Contoh
    # vi /etc/winpasswd

    username = NamaUser
    password = PasswordUser
    Kemudian, ganti permissionnya agar hanya dapat dibaca oleh root saja.
    # chmod 600 /etc/winpasswd
    Langkah terakhir, ganti baris mounting di file fstab menjadi
    //winshare/dokumen /mnt/windows_dokumen cifs defaults,credentials=/etc/winpasswd 0 0
    Nah, sekarang mounting otomatis Anda telah selesai, dan password juga aman. Untuk melihat hasil dari file fstab ini, Anda bisa melakukan restart.

    Tetapi, kalau kita sering melakukan modifikasi terhadap file /etc/fstab, apakah tidak menjadi buang-buang waktu untuk melakukan restart? Sebenarnya ada cara mudah untuk memuat kembali file /etc/fstab tanpa perlu melakukan restart. Gunakan perintah:
    # mount -a
    Last edited by Sirius Black; 27-06-2007 at 05:18. Reason: Update link untuk dasar-dasar mounting

  3. #13
    Join Date
    Jul 2004
    Location
    Tangerang
    Posts
    2,848
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    24

    Lightbulb [Belajar Linux: Administrasi Sistem] Membuat Partisi



    Membuat Partisi

    Agar bisa diisi dengan sistem operasi maupun dengan data-data lainnya, maka suatu harddisk haruslah dibuatkan partisinya terlebih dahulu. Bagi yang terbiasa menggunakan MS-DOS dan MS-Windows, partisi ini ditandai dengan huruf drive, seperti drive C, drive D, dsb.

    Anda dapat membaca thread ini untuk mengetahui dasar-dasar peng-kode-an HDD dan partisi di Linux.

    Di Linux, nama partisi melekat pada path direktori, karena itu Kita bebas menamai direktori kita. Artinya, bisa saja kita membuatkan partisi terpisah pada folder-folder system Linux. Contoh, Kita dapat membuat partisi terpisah untuk /home, /temp, /etc, dsb. Salah satu manfaat membuat partisi adalah, Kita dapat menginstall beberapa sistem operasi. Keuntungan lainnya, file-file dokumen Kita dapat disimpan dalam partisi terpisah, jadi ketika sistem operasi bermasalah dan perlu diinstall ulang, maka dokumen kita tetap aman.

    Partisi dibagi menjadi 3 jenis, yaitu Primary, Extended dan Logical Partition. Dalam 1 harddisk hanya dapat menampung 4 partisi primary. Jika ingin lebih dari 4 partisi, maka kita perlu menggunakan extended partisi. Dimana dari extended partisi ini Kita bisa memuat logical partisi dengan jumlah yang lebih banyak. Jadi sebenarnya extended ini merupakan wadah dari partisi logical.

    Untuk melakukan partisi di Linux, perintahnya sama dengan pembuatan partisi di MS-DOS, yaitu menggunakan fdisk.
    • Melihat partisi apa saja yang telah ada, gunakan perintah:
      # fdisk -l

      Disk /dev/hda: 40.0 GB, 40020664320 bytes
      255 heads, 63 sectors/track, 4865 cylinders
      Units = cylinders of 16065 * 512 = 8225280 bytes

      Device Boot Start End Blocks Id System
      /dev/hda1 * 1 1275 10241406 83 Linux
      /dev/hda2 1276 1402 1020127+ 82 Linux swap / Solaris
      /dev/hda3 1403 2677 10241437+ 83 Linux
      /dev/hda4 2678 4865 17575110 5 Extended
      /dev/hda5 2678 3569 7164958+ 83 Linux
    • Memulai Fdisk, dapat dilakukan dengan perintah fdisk hdd. Contoh:
      # fdisk /dev/hda

      The number of cylinders for this disk is set to 4865.
      There is nothing wrong with that, but this is larger than 1024,
      and could in certain setups cause problems with:
      1) software that runs at boot time (e.g., old versions of LILO)
      2) booting and partitioning software from other OSs
      (e.g., DOS FDISK, OS/2 FDISK)
      Command (m for help):
      Beberapa perintah yang sering digunakan adalah
      p = Melihat daftar partisi print the partition table
      l = Melihat daftar tipe-tipe partisi yang didukung oleh Linux
      n = Membuat partisi baru
      d = Menghapus partisi
      q = Keluar tanpa menyimpan (membatalkan)
      w = Menuliskan partisi yang baru dan keluar (menyimpan).
    • Berikut langkah-langkah membuat partisi baru
      Command (m for help): n
      Command action
      l logical (5 or over)
      p primary partition (1-4)
      l
      First cylinder (3570-4865, default 3570):
      Using default value 3570
      Last cylinder or +size or +sizeM or +sizeK (3570-4865, default 4865): +500M
    • Mengganti tipe partisi
      Command (m for help): t
      Partition number (1-6): 6
      Hex code (type L to list codes): <<isi dengan tipe partisi yang diinginkan, tekan l untuk melihat daftarnya>>
    • Menyimpan partisi yang telah dibuat:
      Command (m for help): w
    • Partisi telah dibuat, tetapi masih belum dapat digunakan karena belum diformat. Untuk itu, restart komputer Anda agar dapat mengenali partisi yang baru. Kemudian ketik perintah ini
      • Untuk format dengan tipe ext3 (tergantung saat membuat partisi tadi)
        # mkfs.ext3 /dev/hda6
      • Untuk format dengan tipe FAT32
        #mkdosfs /dev/hda6
    Demikianlah pembuata partisi baru. HATI-HATI dengan pembuatan partisi ini, karena dapat menyebabkan data Anda hilang bila salah mempartisi.

    Ingat, partisi yang baru ini tidak di mount secara otomatis oleh Linux, karena itu Anda harus memountingnya dengan fstab agar dapat dimount secara otomatis.
    Last edited by Sirius Black; 28-06-2007 at 06:07.

  4. #14
    Join Date
    Mar 2007
    Location
    Medan
    Posts
    195
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    10

    Re: Belajar Linux: Tingkat Menengah – Administrasi Sistem



    wew, mantep bro buat infonya....



  5. #15
    Join Date
    Jun 2006
    Location
    slemans
    Posts
    378
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    12

    Re: Belajar Linux: Tingkat Menengah – Administrasi Sistem



    good work. many thanks



  6. #16
    Join Date
    Jul 2004
    Location
    Tangerang
    Posts
    2,848
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    24

    Lightbulb [Belajar Linux: Tingkat Menengah – Administrasi Sistem] Init dan Run Level



    Sebelumnya Saya mengucapkan terima kasih kepada admin, mod dan supermod yang menjadikan thread ini sebagai sticky.

    Init dan Run Level

    Init merupakan inti semua proses yang akan dan sedang berlangsung. Init dapat dikonfigurasi melalu file yang terletak di /etc/inittab.

    Run Level merupakan konfigurasi perangkat lunak dari sistem yang hanya akan membolehkan group proses tetap ada. Setiap proses akan melakukan penggandaan oleh init untuk setiap runlevel yang telah didefinisikan pada /etc/inittab.

    Run Level terbagi menjadi 7 bagian, yaitu:
    0 = Halt, yaitu mematikan sistem komputer
    1 = Single User Mode, dalam modus ini kita bekerja sebagai root, biasanya digunakan untuk menangani masalah di Linux bila terjadi gagal boot. Single User Mode ini juga bisa dengan parameter S atau s.
    2 = Multiuser tanpa networking
    3 = Multiuser dengan networking
    4 = Tidak digunakan
    5 = Multiuser dengan Networking tetapi bekerja dalam modus GUI/X11.
    6 = Reboot, merestart ulang komputer.

    Semua run level tersebut bekerja dalam CLI, kecuali 0, 5 dan 6. 0 dan 6 berguna untuk mematikan atau merestart komputer dan bisa digunakan dari CLI maupun GUI. Run level 5 berguna untuk masuk ke GUI. Defaultnya adalah 5.

    Contoh:
    • Kita ingin masuk ke mode Multiuser tanpa networking, ketikan di CLI
      # init 2
    • Kita ingin masuk ke mode Multiuser dengan networking, ketikan di CLI
      # init 3
    • Kita ingin merestart komputer, ketikan di CLI
      # init 6
    • Kita ingin mematikan komputer, ketikan di CLI
      # init 0
    Seperti pernah disinggung di atas, file inittab dapat dikonfigurasi, dan run level default dikonfigurasi di file inittab ini. Jadi, bila ternyata linux Anda gagal booting (atau malah restart terus) dengan pesan runlevel, Anda harus memeriksa file ini dalam run level 1.

    Berikut isi file dari /etc/inittab tersebut yang telah saya tambahkan komentar untuk dimengerti:
    #
    #inittab This file describes how the INIT process should set up
    # the system in a certain run-level.
    # Default runlevel. The runlevels used by RHS are:
    # 0 - halt (Do NOT set initdefault to this)
    # 1 - Single user mode
    # 2 - Multiuser, without NFS (The same as 3, if you do not have networking)
    # 3 - Full multiuser mode
    # 4 - unused
    # 5 - X11
    # 6 - reboot (Do NOT set initdefault to this)
    #


    #Konfigurasi ini untuk menyatakan saat booting Linux
    #akan masuk ke mode apa. Karena di
    #situ dituliskan
    3, artinya Linux akan masuk ke multi
    #user mode dengan networking dalam modus CLI.
    #Jadi Anda jangan bingung bila tidak masuk ke GUI,
    #salah satu penyebabnya adalah ini.
    id:3:initdefault:

    # System initialization.
    si::sysinit:/etc/rc.d/rc.sysinit
    #Perintah berikut akan menentukan file rc (seperti
    #autoexec.bat) mana yang akan dieksekusi,
    #semuanya tergantung dari runlevel yang dijalankan.
    #Bila dijalankan dalam runlevel 5, maka
    #yang dieksekusi adalah
    l5:5:wait:/etc/rc.d/rc 5

    l0:0:wait:/etc/rc.d/rc 0
    l1:1:wait:/etc/rc.d/rc 1
    l2:2:wait:/etc/rc.d/rc 2
    l3:3:wait:/etc/rc.d/rc 3
    l4:4:wait:/etc/rc.d/rc 4
    l5:5:wait:/etc/rc.d/rc 5
    l6:6:wait:/etc/rc.d/rc 6
    # Things to run in every runlevel.
    ud:: once:/sbin/update
    #Perintah ini berguna untuk membuat tombol Ctl+Alt+Del
    #sebagai perintah reboot. Anda dapat menonaktifkannya
    #dengan meng-comment perintahnya.

    # Trap CTRL-ALT-DELETE
    # ca::ctrlaltdel:/sbin/reboot -t3 -r now
    #When our UPS tells us power has failed,
    #assume we have a few minutes of power left.
    #Schedule a shutdown for 2 minutes from now.
    #This does, of course, assume you have powerd installed
    #and your UPS connected and working correctly.

    pf:: powerfail:/sbin/shutdown -f -h +2 “Power Failure; System Shutting Down”
    # If power was restored before the shutdown kicked in, cancel it.
    pr:12345:powerokwait:/sbin/shutdown -c “Power Restored; Shutdown Cancelled”
    #Defaultnya, kita mempunyai 6 console (tty1-tty6) yang bisa
    #diakses dengan Ctrl+Alt+Fn. Kita dapat mengaturnya akan
    #tidak sampai 6 console, misalnya kita hanya ingin
    #mempunyai 3 console saja. Untuk itu, Anda dapat
    #memberikan tanda komentar (#) pada baris yang diinginkan.
    #Bila kita hanya ingin tty 3 diakses oleh runlevel 2 dan 5 saja,
    #maka Anda dapat memberikan perintah berikut:
    #3:25:respawn:/sbin/mingetty tty3
    #Run gettys in standard runlevels
    1:2345:respawn:/sbin/mingetty tty1
    2:2345:respawn:/sbin/mingetty tty2
    3:2345:respawn:/sbin/mingetty tty3
    4:2345:respawn:/sbin/mingetty tty4
    5:2345:respawn:/sbin/mingetty tty5
    6:2345:respawn:/sbin/mingetty tty6
    # Run xdm in runlevel 5
    # xdm is now a separate service
    x:5:respawn:/etc/X11/prefdm -nodaemon
    Misalkan ada teman Kita yang jail dan mengganti setting file /etc/inittab ini agar Linux hanya menjalankan modus runlevel 9 (padahal tidak ada runlevel 9), maka hasilnya adalah Linux Anda tidak bisa dijalankan sama sekali. Bahkan tidak bisa masuk ke console sekalipun (Error runlevel ini bisa dilihat dari tampilan verbose saat booting. Bila tidak tampil dalam verbose, tekan ESC saja saat splash screen booting muncul). Lalu bagaimana pemecahannya? Berikut caranya:
    1. Saat menu booting (LILO atau GRUB), tekan ESC bila di LILO atau e bila di GRUB.
    2. Akan muncul parameter booting yang dapat kita ketikkan. Ketikkan linux 1
    3. Kita akan masuk sebagai root dalam single user mode.
    4. Setelah itu, ketik vi /etc/inittab dan betulkan file inittab-nya
    5. Setelah dibetulkan, simpan filenya dan restart komputer (ketikan init 6 karena kita sudah belajar init dan run level, dan perintah reboot ini sebenarnya juga mengakses init 6 ini).
    Perubahan inittab ini juga dapat dibaca ulang dengan perintah:
    # /sbin/init q

  7. #17
    Join Date
    Jul 2004
    Location
    Tangerang
    Posts
    2,848
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    24

    [Belajar Linux: Tingkat Menengah – Administrasi Sistem] LILO Boot Loader



    LILO Boot Loader

    Boot loader di Linux ada 2 yang populer, yaitu LILO dan GRUB, pada pembahasan kali ini akan difokuskan pada pembahasan LILO.

    LILO merupakan program untuk memanggil boot loader yang berfungsi sebagai boot manager. Dengan menggunakan LILO, Kita dapat memilih sampai 16 image kernel.

    LILO terdiri dari beberapa program dan file, yaitu:
    1. Map Installer, merupakan program yang berjalan pada Linux dan memberitahukan letak file dan informasi tentang data yang diperlukan saat pertama kali booting. Biasanya, file ini terletak di /sbin/lilo.
    2. File Pendukung, berisi data yang diperlukan oleh LILO saat melakukan booting, contohnya boot loader. File ini biasanya terletak di /boot. File yang paling penting adalah file map (/boot/map) dan file konfigurasi (/boot/lilo.conf).
    3. Boot Loader, bagian dari LILO yang dimuat oleh BIOS, kernel atau boot sector dari sistem operasi lain.
    Untuk mengganti konfigurasi dari LILO, Kita dapat mengedit langsung file konfigurasinya, yaitu dengan perintah
    vi /boot/lilo.conf
    Setelah file konfigurasi diedit, Kita harus menjalankan menginstall LILO yang baru tersebut dengan perintah
    # lilo
    Seperti telah dijelaskan di postingan sebelumnya, bahwa bila Kita melupakan password root, atau ingin membetulkan sistem linux, Kita dapat masuk dalam run level 1. Saat LILO boot loader muncul, kita dapat menekan ESC dan mengetik Linux 1. Selanjutnya Kita sudah berada di run level 1.

    Cara di atas sebenarnya kurang aman, karena siapa saja dapat masuk dan mengganti-ganti sistem Kita, karena tidak ditanyakan password root. Untuk itu, Kita dapat menambahkan password agar saat user ingin memasuki run level 1, user tersebut dimintakan password.

    Caranya:
    1. Buka file konfigurasi (/etc/lilo.conf)
    2. Filenya akan terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian global dan image.
    3. Tambahkan di baris paling atas dengan baris berikut:
      password=rahasia
      restricted
    4. Simpan filenya, jalankan
      # lilo

    Sekarang, setiap kali Kita ingin masuk ke single mode (Linux 1) atau pun mengganti option saat booting, Kita akan dimintakan password.

    Tetapi karena file /etc/lilo.conf itu dapat dibaca oleh semua orang, Kita harus mengamankan file tersebut. Caranya:
    # chmod 600 /etc/lilo.conf
    Sekarang /etc/lilo.conf Anda sudah aman, karena hanya dapat dibaca oleh root. hati-hati, bila Anda melupakan password LILO ini dan Linux Anda tidak dapat mem-boot (karena sistem rusak), Anda harus menginstall ulang LILO via LiveCD atau boot via Disket.
    Last edited by Sirius Black; 02-07-2007 at 16:47.

  8. #18
    Join Date
    Jul 2004
    Location
    Tangerang
    Posts
    2,848
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    24

    [Belajar Linux: Tingkat Menengah – Administrasi Sistem] GRUB Boot Loader



    GRUB Boot Loader

    Jika pembahasan sebelumnya mengenai LILO, maka kali ini Kita akan membahas mengenai GRUB.

    Seperti halnya LILO, GRUB Boot Loader pun perlu diberi password agar tidak sembarang user dapat mengotak-atik sistem. Password Boot Loader berguna untuk:
    1. Mencegah akses ke single user mode
    2. Mencegah akses ke GRUB Console
    3. Mencegah akses ke OS yang tidak aman, contoh dalam dual boot, penyerang dapat memilih OS yang tidak memperhatikan permission dan akses kontrol (misalnya DOS, XP, dsb).

    Berikut caranya untuk memberikan password di GRUB Boot Loader:
    1. Buat password dulu password yang di-encrypt.
      # grub-md5-crypt

      Password:<Ketik password Anda>
      Retype password:<Ketik Ulang password Anda>
      $1$NKeR71$Sgv7tyQ6LG3dhpfihIJyL0
    2. Setelah mengetik password Anda, maka Anda telah mempunyai password yang telah di encrypt (password hash). Buka file /etc/grub.conf Anda, dan tambahkan baris berikut:
      password --md5 <<pasword hash>>

      contohnya dengan password yang Kita ketik tadi akan menjadi seperti ini:
      password --md5 $1$NKeR71$Sgv7tyQ6LG3dhpfihIJyL0
    3. System di atas sebenarnya sudah aman, tetapi tidak untuk yang menggunakan dual boot dengan OS yang tidak aman. Untuk itu, tambahkan lock di bawah title OS tersebut.
      title Windows XP
      lock
    4. Jika Anda ingin mempunya password yang berbeda untuk menjalankan OS yang tidak aman tersebut, Anda dapat menambahkan baris berikut:
      title Windows 2000
      lock
      password --md5 <<pasword hash yang lain>>

    Simpan file tersebut dan keluar dari editor. Sekarang Anda dapat mencoba konfigurasi yang baru tersebut.
    Last edited by Sirius Black; 24-02-2008 at 16:38.

  9. #19
    Join Date
    Jul 2006
    Location
    earth
    Posts
    1,474
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    15

    Re: [Belajar Linux: Tingkat Menengah – Administrasi Sistem] GRUB Boot Loader



    bro sirius mw tanya tentang GRUB nih...
    ak ad mslh sm ubuntu 7.04, setelah ak install ubuntunya GRUBnya gak muncul..
    ak udah coba 3X install ubuntunya tetep gak mw.. langsng aj dia ke windos..
    pernah ak coba install pke GRubnya SUSE tp grub susenya gak bisa diinstall.. error ap gtu..
    ya terpaksa ak install suse(cm cd1 aj,pdhl sblmya ak relain suseku ak hapus gr2 mw install ubuntu), stlh itu grubnya muncul, pilihan ubuntu pun ada, tapi stlh ak coba dia error, gak bisa msk ke ubuntu nya..
    trs ak coba msk windows, wah gak bisa jg.. error chainloadernya..
    complicated..
    sekarang uda bener lg.. uda normal masuk ke windows, trus ak coba install ubuntunya 2X dan tetep gak kluar Grub nya ubuntu..

    yang mau ak tanyain gimana caranya install manual GRUB ubuntu-nya(ubuntu udah terinstall)?
    atao ada cara lain untuk install GRUB??

    tolong bantuannya ya..



  10. #20
    Join Date
    Jul 2006
    Location
    earth
    Posts
    1,474
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Rep Power
    15

    Re: [Belajar Linux: Tingkat Menengah – Administrasi Sistem] GRUB Boot Loader



    oya bro.. sebelumnya uda pernah ak install dan berhasil tp sebab musabab ak hps lagi.. jadi gak ada masalah di cd ubuntu nya..
    tengkyu.


 

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

     

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts