Iseng-iseng baca koran Jawa Pos hari ini (minggu) di halaman 4, ketemu berita yang menarik. Kandidat pengganti bumi... Karena usia bumi yang semakin tua, bencana muncul dimana-mana, memunculkan lagi keinginan manusia untuk mencari "rumah baru".
Beberapa kandidatnya antara lain :
1. COROT 7b, mengandung gas dan kepadatan mirip bumi. Tapi suhunya sangat panas dan kandungan air sedikit.
2. Europa, satelit Jupiter. Memiliki saluran air likuid di bawah permukaan.
3. ENCELADUS, satelit saturnus. Menyimpan waduk air jauh di bawah permukaan.
4. Mars. Ditemukan galur-galur air di berbagai lokasi. Diduga bekas aliran sungai yang mengering.
Mau pilih yang mana? he3.....
Jawaban iseng aja, walau benernya menurut gw, harapan pindah planet itu hampir nggak mungkin. Bagaimana pendapat CHIPers?
tapi yang pasti pada saat itu terjadi.. kita semua udah lama mati
mungkin beberapa puluh generasi lagi baru bisa terealisasi :laugh:
Ha3....Tul...tul...masalahnya bingung aja disana mau beli majalah CHIPnya gimana.... Bisa nganggur gw nggak ada kerjaan. Ga bisa internetan, maen kompie...AH TIDAKKK....
Quote:
Originally Posted by kriee
klo dulu sih denger2 mw pindah ke mars ,., ,. ongkos nya brapa yak ,.,
Beberapa puluh juta........dolar.
Abis sampai di tempat, bingung mau tidur dimana. Restonya masih belum pada buka.
SAN FRANSISCO - Rencana NASA untuk melubangi bulan dalam upaya mencari sumber air ternyata banyak ditentang oleh warga dunia.
Sebuah petisi dalam situs thepetitionsite.com berhasil mengumpulkan sekira 560 dukungan untuk menghentikan rencana NASA ini. Petisi yang dibuat oleh kelompok orang yang mengaku bernama The Chicago Surealist Movement ini ditujukan untuk Presiden Barack Obama. Dalam petisi tersebut, Barack Obama diharapkan dapat menghentikan rencana NASA untuk mengebom bulan.
Sayangnya, meski target dukungan belum mencapai yang diharapkan, sekira 1.000 dukungan, petisi tersebut telah ditutup. Padahal banyak orang dari berbagai negara yang mendukung petisi ini. Kebanyakan pendukung berasal dari Amerika dan Kanada, namun ada juga yang berasal dari Denmark, Kenya, New Zealand, Inggris bahkan Italia.
"Kami yang bertanda tangan di bawah ini menolak rencana LRCROSS NASA untuk mengebom bulan hanya dengan alasan untuk mencari sumber mata air. NASA kami anggap akan mengakibatkan rusaknya ekosistem planet, mengeksploitasi sumber daya dan kolonisasi di planet lain. Ini merupakan agresi yang tidak dapat kami tolerir karena telah menganggu planet yang tergolong tetangga terdekat bumi," tulis sebagian petisi.
Sebelumnya, NASA telah mengumumkan akan menjalankan aksi pelubangan bulan pada hari ini, Jumat (9/10/2009), dengan menggunakan pesawat luar angkasa milik NASA bernama Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS). NASA dijadwalkan akan menjatuhkan roket Centaurnya ke permukaan Bulan pada hari ini pukul 7.31 waktu setempat. (srn)
BERITAJITU.com - Peneliti India menemukan bukti adanya air dalam jumlah cukup besar di bulan. Kesimpulan ini didapat dari tiga misi penelitian negara itu ke bulan.
Seperti dikutip dari vivanews yang dilansir dari Daily Telegraph, data dari pesawat luar angkasa, Chandrayaan-1, menemukan bahwa air masih dibentuk di permukaan bulan.
Direktur proyek Indian Space Research Organisation Mylswamy Annadurai, menyatakan senang dengan temuan itu. "Salah satu tugas Chandrayaan-1 adalah menemukan bukti adanya air di bulan," kata dia.
Peneliti yakin, air terbentuk di kutub dengan bantuan angin di bulan. Dalam laporan yang diterbitkan di Jurnal Science, peneliti menjelaskan bahwa air mungkin bergerak dalam bentuk partikel kemudian membentuk dan menyatu dengan debu-debu di permukaan bulan.
Chandrayaan-1 diluncurkan ke orbit bulan Oktober tahun lalu. Pesawat luar angkasa ini diperlengkapi dengan Moon Mineralogy Mapper (M3). Peralatan ini didesain memang untuk mencari air dengan cara mendeteksi radiasi elektromagnetik yang dipancarkan mineral-mineral di permukaan bulan.
M3 sangat sensitif untuk mendeteksi keberadaan air sekalipun dalam jumlah yang kecil. Menurut peneliti dari Brown University di Rhode Island, Carle Pieters, "saat berbicara soal air di bulan, kita tidak berbicara soal danau, laut, atau bahkan kubangan."
Air di bulan berarti molekul pembentuk air, yakni hidrogen dan oksigen. "Senyawa dua molekul ini kemudian berinteraksi dengan batu dan debu," kata Pieters yang ikut meneliti data dari Chandrayaan-1 itu.
Para peneliti mengatakan temuan ini jadi terobosan baru dalam misi penelitian dan eksplorasi berikutnya ke bulan.(nad)
Cleveland, BERITAJITU.com -- Baru-baru ini, Badan Antariksa AS, NASA, melangkah maju dengan menciptakan reaktor nuklir seukuran keranjang sampah yang dapat digunakan sebagai sumber tenaga bagi pos di bulan atau di Mars.
Tiga uji coba berbeda, yang dilaksanakan di laboratorium NASA dan laboratorium nasional AS, berhasil menunjukkan penggunaan teknologi fisi nuklir ringkas yang bisa dipakai astronot bila mereka berada di planet lain.
"Keberhasilan pengembangan teknologi ini menunjukkan bahwa proyek tenaga fisi berada pada jalur yang tepat," kata Don Palac, Manajer Penelitian Fisi Nuklir, di Glenn Research Center, Cleveland, Ohio, pada Rabu (6/8).
Tenaga di Bulan
Rencana eksplorasi ruang angkasa NASA saat ini dititikberatkan pada pengiriman kembali astronot ke Bulan pada tahun 2020. Misi akan dilanjutkan dengan membangun pos di Bulan untuk meneliti permukaannya dan menguji coba teknologi yang kelak akan digunakan dalam misi ke Planet Mars.
Badan antariksa itu telah melakukan studi kelayakan untuk menggunakan sumber tenaga nuklir guna mendukung pos di Bulan. Para insinyur NASA dan Departemen Energi melakukan serangkaian uji coba untuk mewujudkan proyek tersebut.
Cara kerja tenaga fisi nuklir yaitu dengan cara memisahkan inti atom dalam reaksi terkendali dan berkesinambungan yang menghasilkan panas. Panas tersebut akan disalurkan melalui konverter tenaga dan diubah menjadi listrik yang bisa digunakan.
Sebuah reaktor nuklir kecil apabila digabungkan dengan mesin dapat menghasilkan 40 kilowatt energi, cukup untuk menyuplai pangkalan di Bulan atau Mars. "Energi itu dapat disamakan dengan kebutuhan listrik delapan rumah dibumi," kata salah seorang staf di NASA.
Sebagai perbandingan, empat panel surya raksasa yang dipasang di Stasiun Antariksa Internasional (ISS) mampu menghasilkan sekitar 120 kilowatt tenaga, yang bisa memberi tenaga pada 42 rumah berukuran sedang. Namun, panel itu sangat besar—hampir sepanjang lapangan bola—dan membuat ISS dapat dilihat dengan mudah dari Bumi menggunakan mata telanjang.
Pengujian
Dalam tiga uji coba terakhir, tim peneliti menguji prototipe panel radiator ringan dalam ruang hampa udara layaknya kondisi luar angkasa yang suhunya bisa mencapai -125 derajat celsius. Panel radiator ini nantinya digunakan untuk menjaga suhu reaktor fisi tetap dingin.
Uji coba kedua dilakukan dengan memompa cairan logam melalui mesin Stirling (mesin yang digerakkan energi panas) untuk menyimulasikan bagaimana suhu panas dari reaktor nuklir bisa diubah sebagai sumber energi. Tes dilakukan di Marshall Space Flight Center yang berlokasi di Huntsville, Alabama.
Uji coba ketiga adalah membombardir mesin Stirling dengan radiasi 20 kali lipat dosis yang diizinkan untuk sumber energi fisi nuklir di Bumi. Ini untuk melihat seberapa kuat mesin Stirling tersebut. Uji ketahanan dilakukan selama 26 jam di Sandia National Laboratory yang berlokasi di Albuquerque, NM.
Langkah selanjutnya yang akan dilakukan NASA adalah menggabungkan radiator, mesin, dan alternator menjadi sebuah pembangkit tenaga. (kompas.com/nad)
~ ajari dia mengerti kita dan jangan memaksakan kehendak kita padanya ~
Katakanlah yang benar itu benar, dan yang salah itu salah
walau itu terasa pahit.