The Art Of Seeing
oleh Freeman Patterson
ditranslate oleh david hermandy
dan sebarkan oleh si AMANK (dasar amank hewan plagiat..)
diambil dari forum sebelah demi kepintaran kita bersama
Freeman Patterson menyatakan : melihat, dalam pengertian yang paling luas dan dalam, berarti menggunakan indera, otak dan emosi. Itu berati melihat melebihi label dari benda yang kita pandang. Melihat bukan monopoli mata, “melihat” juga melibatkan indera yang lain. Dalam konteks fotografi melihat lebih jauh berarti melibatkan emosi atau perasaan kita.
Buku The art of seeing dibagi dalam empat pembahasan utama yaitu barriers to seeing (rintangan dalam melihat), learning to observe (belajar mengamati), learning to imagine (belajar berimajinasi), dan learning to express (belajar mengekspresikan).
BARRIERS TO SEEING
Ada beberapa hal yang dianggap sebagai halangan dalam melihat yaitu:
1.Perhatian atau konsentrasi yang berlebihan terhadap sesuatu atau kekhawatiran akan kegagalan dikatakan sebagai rintangan terbesar dalam melihat. Pada saat memotret kadang kita diganggu dengan pikiran akan hasil dari foto kita. Apakah akan bagus atau tidak setting kamera sudah benar atau belum? Atau hal-hal lain diluar faktor fotografi seperti masalah pekerjaan atau rumah tangga dsb. Saat memotret kita memerlukan pikiran yang tenang atau relax. Mengosongkan pikiran adalah salah satu cara yang dianjurkan untuk dipelajari/dilatih. Dengan pikiran yang kosong (bukan otak kosong) kita bisa menggunakan perasaan tanpa gangguan dari bermacam-macam pemikiran.
2.Input tanpa seleksi. Setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai gambar, semua visual yang kita terima harus dimanage dan diseleksi.
3.Penamaan atau labelling terhadap benda yang akan kita foto. Salah satu contoh adalah karya Edward Weston, Pepper #30. Pada saat memotret Edward Weston melupakan sejenak bahwa paprika adalah sayur, dengan penempatan posisi lensa yang tepat dan pencahayaan yang sempurna, fotonya dengan judul Pepper #30 jika diamati akan menimbulkan kesan seperti otot manusia atau bermacam penafsiran lainnya. Seorang pelukis dari Perancis, Claude Monet menyatakan : "TO SEE WE MUST FORGET THE NAME OF THE THING WE ARE LOOKING AT"
4.Terlalu hormat atau memuja sesuatu. Pengikut setia, agar diterima dalam kelompok mayoritas. Ketika kita terlalu mengagungkan sesuatu kita mulai membatasi diri kita sendiri. Pada saat ini terjadi si fotografer sudah membangun sebuah pagar/benteng disekelilingnya terhadap foto-foto yang tidak salon. Hal ini juga sama jika kita mulai terlalu memuja seseorang (fotografer yang terkenal, misalnya).
5.Terlalu meremehkan, sombong, tidak mau belajar dari yang lebih tua, menganggap sudah mengerti segala sesuatu. Bahkan Henry Cartier Bresson (yang sudah dianggap sebagai salah satu Master) pun mengakui bahwa Ia banyak belajar dari seniman yang lebih tua, terutama dari lukisan-lukisan.
6.Memaksakan untuk ikut suatu aturan. Hal ini terumatam berkaitan dengan komposisi dan aliran fotografi. Komposisi memiliki aturan-aturan baku, tapi kita tidak harus untuk tunduk pada aturan-aturan tersebut.
7.Kemampuan/kekuatan untuk menjadi yang paling aktif, dominant, berkuasa, mengatur segala-sesuatu. Hal tersebut sekaligus menjadi ketidakmampuan untuk menerima.
8.Kamera juga dikatakan sebagai salah satu yang menghalangi penglihatan. Kamera bisa membantu fotografer memperluas pengetahuannya, tapi pada saat yang sama kamera juga dapat mempersempit pengetahuan fotografer. Kemudahan operasional kamera dengan Program mengakibatkan kita semakin tidak waspada akan keadaan disekeliling kita. Lebih luas hal ini juga bisa dikaitkan dengan kemajuan teknologi.
LEARNING TO OBSERVE.
Manusia berpikir melalui berbagai simbol, seperti kata-kata, bunyi dan gambar. Ketika seorang pelari mulai bertanding, ia menggambarkan jarak yang harus ditempuh secepatnya. Ketika seorang perancang busana mulai menjahit, dibayangkannya baju yang telah jadi. Ketika seorang fotografer mengamati obyek pemandangan atau suatu kejadian ia mencoba menggambarkan yang terbaik untuk direkam kedalam film.
Kita berpikir dengan tiga macam gambaran imaji yaitu mengamati (melihat fisik obyek), membayangkan (ide dan mimpi), menciptakan (memotret)
Thinking sideways (berpikir dari sisi yang lain)
Dengan mencoba berpikir dari sisi yang lain kita bisa menemukan lebih banyak ide dan kreatifitas. Sebagai latihan bisa dimulai dengan membuat aturan dalam fotografi yang sering kita dengar :
1.Fokus pada subyek yang menjadi point of interest.
2.Penuhi frame dengan subyek yang difoto.
3.Jangan memotret antara jam 10.00 – 15.00, sinar matahari terlalu keras.
4.Jangan memotret melawan matahari.
5.Pegang kamera dengan kokoh (jangan sampai tergoncang)
6.Ikuti aturan komposisi 1/3, seperti 1/3 langit dan 2/3 darat.
7.Ikuti light meter.
8.Memotret anak kecil atau hewan pada ketinggian mata mereka.
9.Hindari flare, gunakan lens hood
10. Kamera harus sejajar dengan horison.
Kemudian dengan thinking sideways kita coba untuk melanggar aturan diatas menjadi :
1.Buat subyek out of focus, bermain dengan keseimbangan bentuk.
2.Biarkan obyek lainnya terekam, buat interaksi antara subyek dengan obyek lainnya.
3.Memotret setiap saat, siang hari jam berapa saja.
4.Buat foto yang melawan matahari dalam satu bulan.
5.Memotret sambil berlompat atau berputar.
6.Buat komposisi baru, ikuti emosi.
7.Abaikan. Lupakan zone system. Buat overexpose dan underexpose sampai 3 stop.
8.Foto dari atas, samping, atau dari ground level.
9.Gunakan flare untuk menambah artistik.
10. Ciptakan horison baru.
Dengan latihan itu diharapkan kita bisa mengembangkan kreatifitas terutama penggunaan kamera dan komposisi.
Lingkungan Sekitar.
Freeman Patterson menyarankan latihan yang tujuannya agar kita semakin peka dengan lingkungan sekitar kita dan memperbaiki cara melihat.
1.Sebagai latihan pertama cobalah buat 10 foto menggunakan lensa standard dalam waktu 20 menit didalam sebuah ruangan yang agak kecil seperti kamar mandi.
2.Latihan berikutnya dengan menyiapkan kamera dan lensa standard atau wide disamping tempat tidur. Pada saat bangun tidur pada pagi hari segera ambil kamera dan buat minimal 5 foto dari posisi awal kemudian pada saat duduk dipinggir tempat tidur, buat lagi minimal 5 foto kemudian buat lagi 10 foto sebelum anda masuk kamar mandi.
3.Latihan bisa terus dikembangkan dengan ruang yang lebih besar tapi masih di sekitar rumah atau dengan hewan peliharaan.
Flexible
Dengan melatih thinking sideways kita diharapkan bisa menjadi flexible.
Contohnya pada saat kita kesuatu tempat untuk memotret pemandangan sampai disana kita menemui banyak sampah, cobalah lebih flexible dengan berpikir membuat foto (essay) tentang sampah.
Atau pada saat cahaya redup dan kita tidak membawa film speed tinggi, kita bisa mencoba untuk membuat foto slow speed yang banyak element blur.
Relaxed
Ada pendapat yang menyatakan penting bagi kita untuk mencoba mengosongkan pikiran atau relax. Intinya dari relax adalah bagaimana kita bisa menggunakan perasaan lebih efektif. Otak manusia terbagi atas dua bagian yaitu otak kiri yang berhubungan dengan rasio, perhitungan, rumus, teori, logika, dll dan otak kanan yang menghasilkan estetika, perasaan, emosi. Dalam fotografi otak kanan berperan dalam hal seperti komposisi dan ide, otak kiri mengambil peranan seperti perhitungan exposure, focussing, fill in, mengganti lensa, dll. Idealnya pada saat memotret kita tidak diganggu oleh otak kiri. Otak kanan kita bekerja menentukan komposisi yang ideal, perpektif yang cocok, angle yang tepat, sementara hal-hal teknis seperti under-over, menggeser speed/diafragma dilakukan secara otomatis tanpa harus melalui suatu pemikiran yang melibatkan otak kiri. Hal ini bisa dicapai melalui latihan.
LEARNING TO IMAGINE.
Belajar berimajinasi.
1.Mencoba untuk berpikir dari sisi yang lain (thinking sideways). Dan melawan aturan aturan kuno.
2.Mempelajari gambar dari media lain seperti lukisan motif atau patern seperti dari kain batik, keramik dll.
3.Lihat kesamaan antara subyek dan bagian dari subyek. Misalkan kita memotret keluarga, keluarga menjadi subyek dari foto kita, anggota keluarga merupakan bagian dari subyek yang kita foto. Bagaimana kita bisa membuat salah satu anggota keluarga mewakili anggota keluarga yang lain? Atau misalkan kita memotret pemandangan dan tema yang ingin kita sampaikan adalah ketenangan, bagian mana dari komponen pemandangan yang bisa menonjolkan atau mewakili ketenangan ?
4.Mencoba membayangkan. Sebelum memotret sebuah pertandingan sepakbola misalnya, bayangkan kita yang lagi dalam pertandingan, hal ini dapat membantu kita pada saat menghadapi situasi yang sebenarnya.
5.Berfantasi, dapat membantu menemukan ide-ide yang baru. Coba untuk membayangkan hal-hal yang gila sekalipun, seperti bagaimana jika anjing memiliki roda bukannya kaki (aplikasinya dengan membuat foto panning menggunakan speed sangat lambat dari anjing yang berlari sehingga pola gerakan kakinya bisa menyerupai roda), atau seperti apa jika sebuah kembang hinggap di seekor kupu-kupu.
Untuk mengidentifikasi cara kita melihat, bisa dilakukan semacam evaluasi yang dianjurkan oleh Bryan Peterson dalam bukunya Learning to see creatively.
Pertama-tama ambil sekitar 75 foto Anda, lebih baik yang bukan foto human interest. Ambil kertas buat 6 kolom pada kertas itu kemudian tuliskan line (garis), shape (kurva), form (bentuk), texture, pattern (pola) dan color masing-masing mewakili satu kolom. Evaluasi setiap foto, beri tanda element apa saja yang terdapat pada setiap foto. Setelah selesai, lihat kolom mana yang memiliki tanda paling sedikit. Dari sini bisa diketahui element yang paling sering kita abaikan. Sebagai kelanjutan dari evaluasi itu, cobalah memotret obyek yang mengandung element tersebut.
LEARNING TO EXPRESS
Membuat foto yang berekspresi bisa dilatih dengan memotret benda-benda yang sederhana. Freeman Patterson dalam suatu kesempatan memberi tugas kepada muridnya untuk membuat foto minimal 20 exposure tentang telur ayam dalam waktu 24 jam. Hasil yang diperoleh sangat bervariasi. Ada yang sangat memotret telur ayam dan diatas kertas putih yang memberikan gambaran simpel tentang bentuk, ada yang dengan background langit, dikuburan yang bisa melambangkan kehidupan, dan didekat ban mobil yang mengekspresikan kerapuhan atau kekuatan.
Untuk membuat ekspresi dari subyek, sebaiknya kita berpikir apa yang diekspresikan subyek itu dari pada apa yang akan kita ekspresikan dari subyek itu. Beri perhatian lebih tentang detil yang ada dari subyek dan disekeliling subyek, hal ini dapat membantu imajinasi kita.
Beberapa hal yang turut berperan dalam ekspresi sebuah foto:
Arah cahaya
Intensitas cahaya (hard atau soft)
Texture
Garis
Perspektif
Warna (emosi yang terkandung dalam warna)






)
Reply With Quote



Bookmarks